Latest posts

  • Wanita Patah Hati di Kedai Kopi Tua Tengah Kota*

    “Rasa sayang bisa berkurang, rasa cinta juga bisa hilang,” ucap Bejo datar. Masih dengan nada datar, Bejo melanjutkan, “Senyummu sudah tak menenangkanku, tawamu juga tak serenyah dulu.” “Maksudku kamu juga berubah, rasanya berbeda….” Wanita di depan Bejo sudah tak kuat lagi, sebelum Bejo melanjutkan kalimat yang hanya akan semakin menggarami luka di hatinya, wanita itu…

    Read more

  • Legenda Syeikh Jangkung

    Dalam kebingungan, Patih Suconegoro tak bisa berpikir, ia hanya terus berjalan tanpa tujuan. Dia biarkan bajunya melambai-lambai diterpa angin malam. Hingga hawa dingin menerobos masuk begitu saja seakan dipersilahkan. Suara jangkrik yang bersahutan di tengah sunyinya malam juga tidak membuatnya terganggu. Pikirannya penuh dengan titah Sultan Keraton Cirebon yang memerintahkannya agar mencari seorang sakti untuk…

    Read more

  • Lelaki Minggu Sore

    Lelaki itu bergegas meninggalkan kedai kopi kami, dengan segelas espreso yang hampir habis dan segelas latte yang belum diteguknya sekalipun. Langkahnya terhuyung, tetapi tetap ia lanjutkan agar segera raib tempat yang ia duduki dari pandangannya. Kutengok, ia kerepotan mengusap air matanya. Apa yang terjadi padanya sore ini, aku turut berduka. Bagiku, sore menjadi waktu yang…

    Read more

  • Tuan, Tuhan Bukan?

    Pagi itu, Bu Mirna pergi ke Pasar. Baru beberapa langkah dari area rumahnya, Bu Mirna mendengar suara sesuatu yang sedang dipukul berulang-ulang. Bu Mirna pun mencari di mana asal suara tersebut, hingga akhirnya Ia berhenti tepat di depan jendela salah satu rumah. Karena penasaran, Bu Mirna pun memicingkan matanya, mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi…

    Read more

  • Alas Roban

    Di Hari Senin yang terik,  aku selesai dari pengecekan stok produk di toko cabang Kota Kendal. Aku berniat tidur sepanjang jalan sebelum tiba di toko cabang selanjutnya. Namun mendadak sopirku menginjak rem seperti menghindari sesuatu.    “Ada apa, Pak?” Tanyaku pada Pak Hari, sopir baruku. “Maaf Mas Jupiter, tiba-tiba ada kerumunan monyet di tengah jalan.”…

    Read more

  • Surat Al-Fatihah Dolal

    “Bismillahirrahmanirrahim”, suara kering orang tua dengan langgam Jawa menggema di telinga masyarakat yang sedang berbaris, saf yang terbentuk layaknya barisan perang. Mereka yang mendengarnya pun segera diam dan mengikuti pak Imam. Seolah-olah bacaan yang sedang dirapalkan itu memiliki unsur magis tersendiri, menggerakan sikap jemaah di Mushala al-Hikmah. Sambil membenarkan songkok hitamnya, mata Dolal mulai meleng…

    Read more

  • Tak Kutemukan Surga di Telapak Kaki Ibu

    Siang itu mataku terbuka, setelah selimut menghangatkan tubuhku semalam suntuk. Aku  memandang keluar jendela, melihat banyak anak yang bermain. Suaranya seperti pabrik; bergemuruh dan tidak pernah berhenti. Anak-anak tersebut hanya berhenti bermain ketika ibunya datang menjelang malam sambil membawa tongkat, kemudian memekikkan suara yang membuat gerombolan anak-anak tersebut berhamburan. Aku tidak suka ibu itu marah.…

    Read more

  • Sore

    Ternyata selain langit ini ramai oleh awan, jalanan pun tak dapat diubah oleh keramaian sang pejalan. Tepat di sore itu, Aku duduk di atas bangku marmer yang letaknya tak begitu jauh dari pinggiran trotoar. Hanya ada aku, kau, dan jagung bakar di genggaman jemari kita. Tak jauh dari seberang, jelas terlihat di tatapanku, seorang lelaki…

    Read more

  • Kenang Dalam Senggang (End)

               Malamnya, setelah sukses melaksanakan kewajiban dan merealisasikan planning rebahan, aku nonton bareng adikku di kamarnya. Adikku perempuan, Nela namanya, kami hanya selisih 3 tahun. Jadi tidak terlalu signifikan perbedaan kami saat dihadapkan tontonan  bergenre romance. Saat pertengahan film, aku mendapat notifikasi WA dari Dimas. Kali ini aku penasaran, aku coba langsung buka “Tadi di pantai…

    Read more

  • Kenang Dalam Senggang (Part II)

               Sembari berjalan di depan pelataran kios-kios untuk pulang, aku meminta mbak Jannah melanjutkan ceritanya. Tapi jujur, rasanya darahku beredar lebih cepat dari sebelumnya. “Ya aku jawab aja, pulang ke Indonesia,” terangnya dan bla bla bla. Sampai ke poin kalau mas Yusuf bilang, “In shaa Allah setelah  selesai dari sini aku mau berkunjung ke rumahmu, bolehkan?”.…

    Read more