Mengapa Pemuda Pancasila Tetap Eksis?

7eee56fa 7bb7 4f78 8d33 Ad5b49387473 169
Foto: Detik.com

“Semoga jodohmu Pemuda Pancasila,” begitulah komentar gokil dengan objek ormas Pemuda Pancasila (PP) yang cukup sering muncul – ketika  mengomentari postingan yang susah dicerna akal sehat – di berbagai media sosial saat ini. Di luar itu, ormas ini memang cukup laris dijadikan bahan lelucon, entah berupa meme maupun joke-joke receh lainnya. Pertanyaannya sekarang, mengapa netizen demen banget nge-bully ormas berseragam oranye tersebut?

Berdasarkan pengamatan saya, salah satu alasan mengapa ormas tersebut kerap dijadikan bahan ejekan oleh warganet adalah karena tingkahnya yang sering kali dinilai brutal dan barbar. Hal ini dapat kita jumpai dari beberapa aksi rusuh mereka, seperti bentrok dengan Forum Betawi Rempug (FBR) terkait perebutan lahan pada 2021 lalu. Selain itu, mereka juga pernah ricuh dengan aparat, serta merusak fasilitas kantor Pengadilan Negeri Bantul karena tidak terima ketua mereka divonis bersalah pada 2018 silam.

Tidak hanya barbar, beberapa sikap konyol anggota PP juga kerap bikin netizen jengkel. Semisal unggahan-unggahan yang beredar di YouTube, terlihat seorang anggota Pemuda Pancasila namun tidak hafal Pancasila. Kemudian di video lainnya nampak juga orang-orang Pemuda Pancasila yang hobi banget nimbrung di hajatan orang. Karena beberapa hal tersebut, tak heran kalau netizen gemas dengan ormas yang satu ini.

Meskipun terlihat kontroversial, ormas ini tetap saja eksis dan tak tersentuh. Terakhir kali ada yang menyinggung soal pembubaran ormas oranye tersebut, ia langsung mendapat intimidasi hebat dari ormas itu. Hal ini dialami oleh Junimart Girsang, anggota komisi III DPR RI, yang juga merupakan politikus PDIP. Karena ucapannya tentang pembubaran PP ia didemo oleh ormas PP se-Indonesia.

Selain karena keganasan ormas ini, hal lain yang membuat mereka kokoh tak tergoyahkan menurut saya adalah tidak adanya intervensi pemerintah terkait ormas ini. Pemerintah seperti tidak pernah menyentuh atau menyinggung ormas PP, berbeda dengan FPI misalnya, meskipun keduanya sama-sama terkesan brutal. Kita semua mengetahui, pemerintah telah resmi membubarkan ormas yang dikomandoi Habib Rizieq Shihab itu pada akhir 2020.

Singkatnya, di antara alasan utama mengapa FPI dibubarkan ialah karena ia telah menyalahi UU No. 16 Tahun 2017, bahwa setiap ormas harus menjaga eksistensi ideologi dan konsensus dasar negara. Sementara hal tersebut alpa dalam anggaran dasar FPI, begitulah yang tertulis pada laman Kompas.com. Situasi tersebut tentu berbeda dengan ormas Pemuda Pancasila, dari namanya saja kita pasti sudah tahu bahwa ormas ini tidak bertentangan dengan ideologi Bangsa. Maka, diposisi inilah mengapa ormas PP tidak perlu dibubarkan.

Unjuk Rasa Ormas Pemuda Pancasila Antaranews 1 Ratio 16x9 1
Foto: Tirto.id

Namun saya menjumpai sebuah opini menarik oleh Made Supriatma, pengamat sosial dan politik. Dalam tulisannya yang berjudul “Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memelihara”, ia justru mengatakan bahwa sebenarnya ormas Pemuda Pancasila memiliki sebuah ikatan dengan para stakeholder, entah itu para penguasa maupun elit partai. Para elit bangsa selalu membutuhkan mereka, khususnya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kotor yang tidak dapat dilakukan secara legal-formal.

Di era Soeharto, mereka dibutuhkan untuk membantai PKI pasca pemberontakan 1965. Setelah era orde baru tumbang, mereka tetap eksis karena masih banyak yang mengadopsi dan merawat mereka. Penguasa memerlukan mereka. Oposisi menggunakannya. Kalangan bisnis membutuhkannya. Sehingga, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk mengusik ormas ini. Wacana tentang pembubaran ormas PP juga hanya ibarat memukul udara, sesuatu yang sia-sia.

Saya sendiri juga tidak terlalu terobsesi dengan isu pembubaran ormas ini. Selain karena alasan di atas, toh saya rasa ormas Pemuda Pancasila ada sedikit sisi baik. Mereka cukup aktif melakukan kegiatan-kegiatan sosial, seperti bantuan korban bencana, pelatihan usaha dan UMKM, dan masih banyak lagi.

Hanya saja yang perlu digarisbawahi adalah sikap barbar ormas Pemuda Pancasila. Saya tidak tahu apakah itu merupakan setelan dari sananya atau bagaimana, namun perlu diingat, mereka membawa nama Pancasila. Tentunya beberapa aksi kekerasan mereka seperti bentrok dan perusakan fasilitas umum sama sekali tidak mencerminkan nilai Pancasila. Maka di sisi inilah menurut saya ormas ini perlu berganti nama.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *