Campaign Hastag Dakwah: Inovasi Kampanye Konten Kreatif Sosial Media Sebagai Usaha Mempertahankan Eksistensi Dakwah Agama Islam dalam Menghadapi Perubahan Zaman di Revolusi Industri 4.0

Business G07dd79018 1280 2 1024x574
Foto: Pixabay.com

Oleh : Iryan Ramdhani(*)

Prolog

Perkembangan teknologi komunikasi sangat pesat dan dengan kemajuan teknologi semakin berkembang di Indonesia dan di seluruh dunia. Dalam kasus khusus ini, negara Indonesia telah melihat peningkatan penggunaan media sosial yang dapat diakses dari ponsel serta berbagai jenis di era 5.0 proses penggunaan seperti itu. Kita dapat melihat dari berbagai sumber, bahwa Indonesia mengalami pertumbuhan dalam penggunaan jejaring sosial. Saat ini Indonesia menempati urutan ke-3 pengguna internet setelah China. Dalam hal ini, media sosial digunakan oleh berbagai kalangan masyarakat Indonesia seperti pelajar, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum. 

            Dominasi media sosial yang banyak digunakan seperti YouTube, justru dinikmati oleh masyarakat Indonesia dengan jumlah pengguna yang mengakses YouTube sekitar 88%, disusul media sosial Whatsapp dengan total kunjungan 84%, Instagram 79%, dan disusul jejaring sosial Facebook dengan total 84%-79%, data ini dijelaskan oleh halaman databoks.com.1 Terlihat bahwa pengunjung yang menggunakan jejaring sosial melalui internet di Indonesia cukup besar dan penggunannya juga beragam dari usia 16 hingga 64 tahun. Banyak orang menggunakan media sosial seluler dengan berbagai minat dan berbagai jenis orang yang dapat menjangkaunya, yang dapat berdampak pada masyarakat, seperti jumlah game, hoax, dan bahkan konten yang kurang mendidik. 

Data diatas sangat mengejutkan sekali melihat perkembangan media sosial di Indonesia yang sangat signifikan mengalami perkembangan dan kemajuan. Dengan jumlah data diatas, besar kemungkinan untuk menciptakan inovasi untuk menciptakan konten kreatif namun juga informatif, edukatif, hingga inspiratif dalam menyebarkan dakwah. Kehadiran berbagai konten edukatif diharapkan dapat membuat kepedulian serta kehati-hatian masyarakat dalam menggunakan perangkat digital semakin tinggi. Melalui edukasi, khususnya dalam penyebaran berbagai konten edukatif dapat menarik perhatian masyarakat untuk senantiasa menumbuhkan nilai-nilai berliterasi digital.2 Kehadiran ini dapat juga membuka peluang dalam penyebaran dakwah di era digital secara mudah untuk para pendakwah menyebarkan ajaran Islam rahmatan lil alamin.

Tujuan penulisan esai ini adalah menciptakan inovasi dakwah dalam menghadapi perubahan zaman di tengah era globalisasi bagi masyarakat di era 5.0 ini, dengan memanfaatkan berbagai konten edukatif yang saat ini banyak dibuat oleh berbagai kreator sebagai langkah menanamkan nilai-nilai literasi digital dan dakwah Islam. 

Analisis Inovasi Kampanye Konten Kreatif Sosial Media 

Dari berbagai jenis media yang digunakan, media komunikasi eksternal sering kali lebih banyak digunakan. Media komunikasi eksternal adalah media komunikasi yang dipergunakan untuk menjalin hubungan dan menyampaikan informasi dengan pihak-pihak yang berada di luar organisasi. Menurut Suranto AW (2005:123-124), media komunikasi eksternal yang sering dipergunakan oleh instansi, lembaga, organisasi, hingga kalangan publik umum antara lain sebagai berikut: media cetak (majalah, buletin, brosur, leaflet), audio visual (teater, film, televisi), visual (peta, foto kejadian), individual (radio, kaset-kaset, khutbah, buku pelajaran), lisan (pembinaan), dan elektronik (bedug, pagelaran, wayang, kesenian, surat kabar, papan pengumuman). Di sisi lain, teknologi canggih dari hadirnya gadget dapat melengkapi dalam mencangkup banyak jenis media yang dapat kita gunakan sekaligus, yaitu media elektronik.

Fasilitas-fasilitas yang terdapat dalam gadget atau smartphone tidak hanya terbatas pada fungsi telepon dan mengirim pesan saja. Smartphone dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran, dimana melalui smartphone seseorang dapat mempelajari hal-hal baru melalui isi atau pesan yang disalurkan. Smartphone juga menjadi ikon ‘gaya hidup’ yang menurut S. Kotler (2000) adalah pola hidup seseorang dalam mengekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Jadi, smartphone juga bisa menjadi media hiburan sekaligus menyalurkan hobi seseorang seperti: bermain game, mendengarkan musik, bahkan kita dapat menonton ceramah dan konten dakwah lebih dari satu sumber. Oleh karena itu, smartphone dapat menjadi sarana untuk menyebarkan berbagai dakwah dan ajaran Islam dan dapat menjadi tempat praktis dan positif untuk menyampaikan pertanyaan terkait ajaran agama Islam dan mencari jawaban atas pertanyaan tersebut di media sosial.

Platform media sosial telah membawa dimensi lain untuk mengakses informasi. Dengan perkembangan platform berbagi sosial, telah terjadi transisi ke era digital dalam mengakses informasi.3 Dengan demikian, platform media sosial telah menghadirkan peluang baru bagi para peneliti untuk memperluas publikasi berbagai jenis informasi serta konten para pengguna ke sesama pengguna media sosial lainnya. Media sosial mendapatkan momentumnya di kecepatan yang tak terbayangkan. Ini menunjukkan bahwa kita, sebagai makhluk sosial, membutuhkan koneksi yang konstan dengan satu sama lain dan dengan dunia luar. Dunia lebih terbuka dari sebelumnya dengan peluang luar biasa untuk bertukar ide, pengalaman, dan kecerdasan karena terhadap kemajuan teknologi yang pesat. Media sosial menemukan jalannya dengan cepat ke dalam dunia komersial, sekaligus pengguna juga sedang mencari kemungkinan memanfaatkan sosial alat media dalam arena pendidikan. Media sosial merupakan alat yang memberikan pengguna dengan kesempatan baru untuk menjadi mandiri dalam studi dan penelitian mereka. Mereka mendorong jangkauan ekspresif yang lebih luas kapasitasnya (Crook, et al, 2008).4

Networks G8a52af65a 640 1
Foto: Pixabay.com

            Media sosial mempunyai potensi yang besar untuk dipakai sebagai media dakwah. Dalam konteks inovasi sosial media, terjadi perubahan baik dalam bahan dan format berupa gambar, video, atau audio dalam mengkonversitas atau mengadaptasi teknologi digital untuk mendukung kebutuhan penting konten-konten yang berkaitan dengan dakwah, seperti: kebutuhan konten pendengar dalam menemukan atau mendengarkan orasi puisi-puisi sufi atau ceramah. Juga ada beberapa hal yang perlu dilakukan selain itu dan tentunya harus disesuaikan dengan kemampuan dan keinginan masing-masing individu. Salah satu contoh adalah bisa membuat berbagai tempat pekerjaan (kedudukan) pada media sosial agar memberi ide-ide lanjut dari konten. Inovasi dan ide konten kreatif dapat terapkan di beberapa platform sosial media yang cocok yaitu:

  1. TikTok dan Reels Instagram

TikTok merupakan aplikasi yang berasal dari China yang diluncurkan pada September 2016. Kebanyakan dari pengguna aplikasi TikTok adalah Generasi Milenial dan Generasi Z. Aplikasi TikTok digunakan sebagai media hiburan dalam membuat dan berbagi video dengan pengguna aplikasi TikTok lainnya. Aplikasi ini berbentuk creating and sharing konten video ke sesama pengguna TikTok (C. Dewi 2020).5

Menurut daftar global Apptopia, TikTok memiliki 656 juta unduhan pada tahun 2021. Diikuti oleh Instagram (545 juta), Facebook (416 juta), WhatsApp (395 juta), Telegram (329 juta), Snapchat (327 juta), Zoom (300 juta), Messenger (268 juta), CapCut (255 juta), dan Spotify (203 juta). Kepopuleran aplikasi TikTok ini dapat menjadi kesempatan banyak untuk dijadikan tempat bagi para pendakwah atau kreator menghasilkan konten dakwah agar dapat menjadi salah inovasi menyebarkan dakwah Islam. Kecanggihan aplikasi ini juga didukung fitur canggih yang dapat membantu penggunanya untuk mengukur aktivitas, yaitu Key Metrics merupakan pengukuran terhadap hasil-hasil dari aktivitas pemasaran dari video yang kita upload. Dalam aplikasi TikTok, Key Metrics digunakan untuk mengetahui berapa jumlah Views, Likes, Comments, dan Shares yang dihasilkan sebagai tolak ukur kualitas konten dalam sebuah konten video TikTok. Views merupakan jumlah penayangan pada suatu konten.

Bagi kreator konten dan pengguna, fitur Comments berguna untuk meningkatkan interaksi dengan audiens dan menjadi feedback bagi kreator konten sebagai evaluasi konten selanjutnya. Shares merupakan sebuah tindakan menyebarluaskan konten kepada audiens lainnya. Fitur shares digunakan oleh audiens sebagai bentuk kepercayaan mereka terhadap konten tersebut, sehingga audiens dapat menyebarluaskan konten. Hal ini juga membuat Reels Intagram juga memiliki kemiripan yang sama dengan TikTok.

  • Space Twitter dan ClubHouse

Mengikuti jejak platform media sosial seperti Clubhouse, Twitter menambahkan cara untuk menjadi tuan rumah (Host) dan mengambil bagian dalam percakapan audio langsung dengan fitur yang disebut Twitter Spaces. Selain membiarkan sekelompok orang bergiliran melakukan percakapan audio saja secara real-time, pengguna juga dapat menyematkan tweet ke Space yang mereka buat, yang dapat dilihat dan ditanggapi oleh semua orang. Menyematkan (dan melepas sematan) tweet ini hanya membutuhkan beberapa ketukan.6

            Pengguna tidak perlu kerepotan lagi untuk mengatur penyelenggaraan event offline, dengan menggunakan Twitter Spaces, pengguna bisa menyelenggarakan event secara online cukup dan kapan saja dengan beberapa klik. Tidak hanya itu saja, kelebihan dalam membuat event secara online bisa menghemat budget, mengundang pengguna lain, membuat pertanyaan, serta dapat melihat kolom komentar secara live, karena tidak perlu berlangganan dan durasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Hal ini menjadi pembeda dengan aplikasi zoom yang memiliki durasi terbatas dan diperlukan berlangganan untuk membuka fitur tambahan lainnya.

  • Youtube

Youtube merupakan sebuah platform media sosial yang menyimpan dan menyiarkan postingan berupa video yang dapat diakses dimanapun pada jaringan internet. Seluruh orang dapat menggunggah video kedalam platform Youtube dengan syarat memiliki akun Google dan digunakan sebagai akun Youtube. Youtube saat ini merupakan aplikasi dibawah layanan Google (Aldila Safitri, A., & Irwansyah, I. (2021).7

Youtube memberikan kebebasan durasi dalam pengunggahan video pada platformnya, dan video yang telah diunggah bersifat gratis, dan juga memungkinkan mendapatkan bayaran (monetize) dari layanan Google Adsense dengan mengizinkan iklan untuk diputar pada video yang diunggah pada platform ini. Di platform ini ada banyak fitur yang dapat konten kreator dan pengguna gunakan mulai dari anotasi, mengatur kecepatan video, live streaming, subtitle, mengunduh video, hingga tidak ada batas besar file yang akan kita upload di platform ini. Hal ini memungkinkan menjadi tempat platform untuk para pendakwah terjun dan mulai menggunakan Youtube sebagai inovasi untuk menyebarkan dakwah agama islam.

Kaaba Gf9a61b5ba 1280 1 1024x575
Foto: Pixabay.com

Peran Campaign Hastag Dakwah di Media Sosial dalam Upaya Mempertahankan Eksistensi Dakwah.

            Peran dalam campaign dakwah ini di media sosial adalah untuk mempertahankan eksistensi dalam dakwah muamalah agama Islam, dengan cara yang nyata, didukung oleh data-data dan hadist-hadist. Cara peran media sosial adalah sebagai berikut: 1. Melayani kebutuhan umat berkawan media sosial berbasis keterbukaan untuk masyarakat luas. 2. Mengabarkan amalan-amalan Islam dengan menggunakan media sosial secara aktif disertai dengan kekayaan fakta. Dan 3. Berdakwah dan menangkap semua khalayak, memiliki massa yang banyak, dapat memperluas jangkauan berdakwah. Jangkauan media sosial dapat membuat para pendakwah di kenal oleh orang banyak. Peran Campaign juga adalah kampanye untuk menyebarkan berita tentang Islam dan ajarannya. Kampanye ini berlangsung di media sosial, bertujuan untuk menarik perhatian orang-orang yang tidak akrab dengan ajaran Islam, tetapi ingin memiliki pemahaman yang lebih baik tentang agama Islam. Banyak sekali jenis media yang dapat digunakan untuk berdakwah di media sosial. Dengan hadirnya Campaign Hastag, Dakwah dapat diharapkan agar dapat memfokuskan kemana arah dan tujuan yang akan menjadi dampak positif bagi para masyarakat khususnya pengguna media sosial, dengan menambahkan Hastag Dakwah para pengguna di media sosial akan mudah mengenali tujuan dan apa isi konten yang akan ditampilkan oleh konten kreator atau pendakwah. Peran dalam Campaign Hastag Dakwah di media sosial dalam upaya mempertahankan eksistensi dakwah akan memberikan manfaat jelas di era perkembangan globalisasi 5.0, yang mana kita dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan beragam inovasi yang lahir di era revolusi industri 4.0.


(*) Penulis merupakan alumni Pesantren Tebuireng dan saat ini menempuh pendidikan di Program Media and Communication, Albukhary International University

1https://databooks.com”Orang indonesia menghabiskan waktu hampir 8 jam untuk berinternet.” Diakses pada tanggal 2 Agustus 2022 jam 20:36 MYD.
2Abdul Azis, M.Pd. (Bandung, 10 Oktober 2021) Pengembangan konten edukatif untuk meningkatkan literasi digital.

3Kotler, Philip. 2000. Manajemen Pemasaran. Jakarta: Prenhallindo

4Crook, C., Fisher, T., Harrison, C., Logan, K., Luckin, R., Oliver, M.,& Sharples, M. (2008). Web 2.0 technologies for learning.

5C. Dewi, “Daya Tarik Tiktok Sebagai Media Pembelajaran Bahasa Inggris Online,” no. November, pp. 27–34

6Johnson, Dave. , How to pin a tweet in a Twitter Space to share with your group conversation

7Aldila Safitri, A., & Irwansyah, I. (2021). Migrasi Televisi ke Youtube sebagai Perkembangan Media Teknologi Komunikasi. Jurnal Teknologi dan Sistem Informasi Bisnis, 3(2), 287–293.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *