
Malam ini mataku kembali ringan. Seperti malam-malam yang lalu, sangat sulit untuk sekadar terpejam walau beberapa menit. Jangankan untuk itu, selamat dari pikiran buruk saja aku sudah merasa beruntung. Meski kutahu, pikiran memang kendali penuh diriku, tetapi amat sulit barang semalam saja selamat dari pikiran-pikiran yang mengganggu. Sembari mengeja penuhnya kepalaku, berdiam diri di balkon adalah pilihan yang tepat. Tentu saja tanpa berpikir panjang, segera kulangkahkan kaki ke luar pintu.
Ampas kopi, sisa abu di asbak rokok, dan malam-malam ringkih yang ditemani berisik suara jangkrik. Begitulah seluruh malam berlalu tanpa adanya keluh dari mulutku. Kerena sekali lagi, selamat dari pikiran buruk saja aku sudah merasa beruntung.
Jika kuputar memoriku ke puluhan tahun silam, betapa aku masih ingat betul bagaimana ibu mengarang lagu yang berjudul cacing selokan yang ia nyanyikan kepada bocah laki-laki berusia lima tahun. Lagu tersebut berapsodi mendayu, seperti perpaduan antara jenis irama seriosa dan melayu. Kedengarannya memang agak menjijikkan, tetapi ibu menyanyikannya seolah ia diva terkemuka dan aku suka-suka saja. Ia berkata bahwa manusia di dunia ini layaknya cacing di selokan. Hidup sebagai sesuatu yang menjijikkan, bisa kapan saja mati sia-sia, namun kadang kala bermanfaat jika menjelma umpan ikan di tangan para pemancing. Maka, selokan adalah bumi tercinta yang membuat manusia sering lupa diri dan banyak mencipta dosa. Lirik lagu tersebut tidak beraturan, tetapi mampu membuatku segera terpejam dan mengundang kantuk. Sedikit penggalan lirik yang ibu letakkan di akhir lagunya dan selalu ia ulang,
“Hu uu hu uuu.. bawa aku ke tempat paling sunyi.. oh cacingkuu.. jangan layu.. agar.. manusia malu..”
Pernah suatu waktu aku bertanya tentang makna di balik lirik pendek itu, ia hanya tersenyum seraya mencium dahiku. Katanya, aku harus lekas terlelap agar tidak dihujani cacing selokan. Aku tidak punya pilihan selain manut sembari mencoba memejamkan kedua mataku. Tapi, pikiranku melayang, membayangkan sewaktu-sewaktu bisa saja cacing-cacing tersebut berada di tepi kasur, ingin mengeroyok dan aku tidak sempat melawannya karena tidak kudapati pistol, atau racun cacing. Untungnya, waktu itu ada ibu. Tidak payah aku repot-repot memikirkan bagaimana taktik melawan ribuan cacing bau yang mengganggu jam tidur anak-anak. Hanya dengan memeluk ibu dan berada dalam dekap buainya, aku seakan selamat dari seluruh kejahatan dunia.
Nampaknya purnama akan segera menyambut bumi. Setelah kuamati lingkaran cahaya Tuhan di langit yang menjelang bulat sempurna. Tidak kuhitung sudah berapa linting yang kuhanguskan untuk sekedar merasa bersyukur setelah mengingat ibu. Kurebahkan tubuh keringku di sofa merah yang sudah mulai lapuk. Kuisap kembali linting pemberian Tuhan yang didamba sekali oleh kaumku. Kendati sebatang, ia mampu membakar kesedihan kaum kami saban petang begini. Mampu membunuh lelah setelah seharian dipaksa banting tulang mencari penghidupan. Barangkali memang ia ditakdirkan Tuhan hanya untuk dibakar dan memberi nikmat, daripada diajak bicara. Karena apa-apa yang diucap lidah, seringkali bikin umat manusia marah-marah. Dan aku tidak senang akan hal itu. Ibuku pernah menasehatiku, “Nak, jika nanti ada yang membuat hatimu abu-abu, tutup telingamu dan nyanyikan saja laguku.” Maka, lagu tersebut sudah jadi hymne bagiku setelah kematiannya.

Hari sudah berganti. Jam tangan menunjukkan pukul dua dini hari. Rasanya ringkas sekali melewatkan malam hanya dengan termenung dan menyelami pikiran. Samar-samar dari kejauhan, ada sesuatu asing yang tak pernah kutemui di malam-malam yang lalu. Kulempar pandanganku pada cahaya yang terbang mendekat ke arahku. Makin dekat, nampaknya ia sejenis burung gagak hitam dengan ujung sayapnya yang keemasan dan menyala. Aku bangkit untuk memastikan penglihatanku sembari memicingkan mata, khawatir yang kusaksikan malam ini adalah santet kiriman dukun. Makin dekat, ternyata apa yang kulihat benar adanya. Di tengah kesibukanku mengamati gagak hitam dengan ujung sayap emas tersebut, tiba-tiba satu suara kecil memecah keheningan.
“Sudah kau isi perutmu, anak muda?”
Aku menoleh ke belakang, barangkali ada manusia lain di pintu balkon malam ini. Tetapi sumber suara tersebut berasa dari hadapanku.
“Iya ini suaraku. Tak payah kau mencari manusia yang terjaga pada malam Jumat Pahing begini.”
“Bagaimana makhluk sepertimu dapat berbicara? Memangnya ada apa malam ini?” Tanyaku keheranan.
“Waktunya kaumku pulang dan menyapa manusia sepertimu.”
“Lantas kau kemari? Coba ingat-ingat lagi, barangkali kau salah alamat.” Jawabku.
“Tidak, aroma kematianku yang membawaku kemari.”
“Di mana kau mati?” Aku mulai penasaran.
“Ah, kau cerewet sekali. Aku sengaja datang untuk mengajakmu bicara. Aku tahu, hidupmu hanya kau habiskan untuk berdiam, lalu menangis sambil tertawa. Acap kali senyummu kau paksakan. Sepertinya kau sangat senang menyembunyikan lukamu yang sangat menganga itu, padahal ia belum kering. Tidak usah kaget, anak muda, aku bisa melihat semuanya dari teropong istanaku di atas sana. Di balkonmu ini, kau seringkali antara hidup dan mati, ya, kan? Anggukkan saja kepalamu jika apa yang kukatakan benar adanya.”
Aku pun mengangguk.
“Kau seringkali ingin memukul orang-orang yang bermuka lima dihadapanmu, kan?”
Aku mengangguk.
“Kau seringkali berteriak pada dirimu agar tidak menangis?”
Aku mengangguk.
“Kau rindu ibumu?”
Dan ya, aku mengangguk.
“Sebelum aku kembali, pejamkan matamu. Kuberi satu jimat abadi yang akan mengobati hatimu. Simak baik-baik lalu tanamkan dalam hati.”
“Hu uu hu uuu.. bawa aku ke tempat paling sunyi.. oh cacingkuu.. jangan layu.. agar.. manusia malu..”

Alur ceritanya kok ibu kurang paham ya nak…
Coba tuangkan… Apa maksud dan tujuan setelah artikel ini dah dibc… Adakah kesan yg mengandung keimanan… Ketulusan atau kesabaran… Atau kecintaan pd sang ibu….
Tolong diperjelas ya anakku… Sayang…