
Alhamdulillah di negeri rantau yang jauh ini, kami kedatangan Ny. Hj. Zannuba Ariffa Chafshoh, kerap kami sebut dengan Ibu Yenni Wahid. Ditengah-tengah kesibukannya, beliau menyempatkan waktu untuk menyampaikan sepatah dua patah kata untuk menambah semangat belajar kami di sini. Sebelum pada akhirnya malam itu juga beliau langsung kembali ke Indonesia. Beliau sendiri merupakan putri dari Presiden Indonesia ke-4 Almarhum KH. Abdurrachman Wahid (Gus Dur). Beliau terlahir dalam lingkungan keluarga NU. Pola pikirnya pun tidak jauh dengan ayahnya yang lebih mengedepankan Islam yang Moderat, menghargai pluralisme, dan pembawa damai.
Saat ini beliau Ibu Yenni Wahid sedang menjabat sebagai Direktur Wahid Foundation, Ketua Pengembangan Inovasi Strategis PBNU (2022-2027), Ketua Panitia Nasional (OC) Peringatan Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama dan masih banyak lagi jabatan beliau yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Kedatangan beliau disambut hangat oleh para mahasiswa NU dan tim hadroh dari Tebuireng Center Cairo. Halaqoh ini bertepatan dengan diperingatinya Hari Pahlawan, dengan tema Menghayati Kiprah Juang Sang Muassis; Sebagai Spirit Berjam’iyyah PCINU Internasional. Acara ini berlangsung pada Kamis, 10 November 2022 bertempat di Aula KAHHA, Sekretariat PCINU, Mesir. Dalam acara tersebut dihadiri langsung oleh Ny. Hj. Zannuba Ariffa Chafshoh, Habib Ali Hasan Al Bahar, Ibu Tri Mumpuni Wiyatno, Rais Syuriah PCINU Mesir, beserta rombongan beliau dari Indonesia.
Di pembukaan nasehatnya beliau mengawali dengan sebuah ungkapan betapa beruntungnya kalian semua yang berada di sini. Kita semuanya punya keistimewaan yang mana diberi kesempatan untuk menimba ilmu ke luar negeri. Betapa banyak orang yang masih berdiam diri di kampung halaman mereka. Bukankah kita sering mendengar nasehat Imam Syafi’i yang berbunyi seperti ini: Orang berilmu dan beradab, tidak akan diam di kampung halaman, tinggalkan negerimu. Merantaulah, ke negeri orang lain.

Ini merupakan sebuah keistimewaan atau kesempatan emas bagi kita, bagimana nantinya ketika kelak kita kembali ke Tanah Air akan berkontribusi kepada masyarakat. Berusahalah untuk memberi bukan hanya untuk menerima saja. Begitu banyak sekali wejangan yang beliau sampaikan kepada kami, kurang lebihnya ada tiga wejangan penting yang saya ingat. Pertama beliau memaparkan tentang kebaikan Al Azhar yang telah diberikan kepada kami seluruh mahasiswa Indonesia. Bukankah selama ini Al Azhar telah memberikan peluang kepada Indoneia begitu besar setiap tahunnya dengan membuka gerbang Al Azhar selebar-lebarnya untuk menimba ilmu di sini. Lantas beliau menanyakan kepada kami, “Apa yang sudah kalian berikan kepada Al Azhar? Pernahkah kalian para mahasiswa berpikir akan memberikan sesuatu kepada Al Azhar? Apa yang sudah kalian siapkan ketika kembali ke Tanah Air nantinya?” Sebagai lulusan luar negeri yang menyandang Gelar Azhary begitu berat sekali rasanya memikul amanah ini, dengan itu beliau memberi motivasi kepada kami agar bisa menjadi Khoirunnas ‘anfauhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia lain.
Yang kedua, beliau berpesan kepada kami agar lebih memperluas jaringan pertemanan selagi masih berada di luar negeri. Datangnya kita di Mesir jangan hanya bergaul dengan orang Indonesia melulu. Mulai sedikit demi sedikit mencoba meniru perspektif budaya luar apa yang membuat mereka sukses, contohnya bagaimana budaya barat yang begitu menerapkan kedisiplinan, dari sisi positif tersebut bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Termasuk kutipan beliau yang terakhir berpesan seperti ini, “Kita tidak boleh meremehkan hal kecil, karena dari hal kecil bisa menentukan keberhasilan dan kegagalan. Maka dari itu perhatikan hal kecil, karena dari situlah yang akan menjadi sebuah kebiasaan.” Bahkan kerap kali kita menyepelekan hal kecil, padahal dari hal kecil lah akan berdampak besar bagi masa depan. Mulai saat ini jangan pernah menyepelekan hal sekecil apapun itu terkadang akan mendatangkan sebuah penyesalan nantinya.
Dari apa saja yang beliau dawuhkan, intisari yang bisa kita ambil adalah bagaimana cara kita mengupayakan yang terbaik untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sekitar karena harapan kita nantinya semoga bisa mengabdikan diri ke Tanah Air yang kita cintai dengan sepenuh hati.
