Menutup Aib Tidak Menjadikanmu Munafik

Mask G36b96cc6d 1920 1024x683
Foto: Pixabay.com

Belakangan ini, muncul sebuah fenomena di kalangan anak muda yang menyatakan bahwa lebih baik menampakkan sifat buruk daripada menjadi munafik. Bahkan mengumbar aib sendiri di depan orang lain seolah sudah menjadi tren. Saya pernah mendengar sebuah podcast dimana seorang public figure yang ditanya kenapa berbuat dan berperilaku buruk secara terang-terangan dan tanpa merasa malu, Ia menjawab, “Mending nakal tapi nggak munafik daripada terlihat alim dan shaleh padahal sebenarnya pendosa”. Dan muncullah pertanyaan dibenak saya, “Apakah menutupi aib diri sendiri berarti menjadikan kita munafik?”

Sebelum mulai menjawab pertanyaan diatas, baiknya kita menyamakan pemahaman terlebih dahulu. Berkaitan dengan definisi aib dan munafik. Pertama tentang aib, masih ada beberapa orang yang salah dalam mendefinisikan aib, dan terkadang mempersempit pengertian dari aib itu sendiri. Jika dilihat dalam kamus Bahasa Arab Al-Muhith, aib dimaknai sebagai cacat atau kekurangan. Sedangkan dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Direktorat Pendidikan dan Pembinaan Agama Islam, aib dapat diartikan sebagai sebuah cela atau kondisi seseorang dilihat dari sisi keburukannya, atau hal yang tidak baik tentangnya. Aib adalah suatu cela atau kondisi yang tidak baik tentang seseorang dan jika diketahui oleh orang lain akan membuat rasa malu, rasa malu ini membawa kepada efek psikologi yang negatif jika tersebar.

Selanjutnya tentang apa itu munafik. Dalam Tafsir Al-Misbah disebutkan, kata munafik atau nifaq terambil dari kata nafaq atau terowongan yang memiliki dua muka yakni kiri dan kanan. Jika dikejar dari mulut terowongan satu, maka akan lari ke mulut terowongan satunya. Ada sesuatu yang disembunyikan yang tidak terlihat dari mata.

Mungkin kebanyakan orang hanya menganggap aib fisiklah yang harus ditutupi, karena untuk sebagian orang menampakkan kesempurnaan yang paling utama. Padahal aib tidak hanya terbatas pada suatu kekurangan fisik, namun juga pada perbuatan dan perilaku tertentu. Malah dalam hal beragama, perbuatan dosa juga termasuk bagian dari aib, sekalipun itu dosa kecil. Hampir semua dosa merupakan aib yang harus ditutupi. Bertolak belakang dengan zaman sekarang, di mana perbuatan dosa seperti mengakui bahwa dia tidak shalat, mabuk-mabukan di muka umum atau bahkan bisa lebih parah lagi, menjadi hal yang perlahan dimaklumi untuk diumbar.

Gus Baha’ dalam salah satu pengajiannya menjelaskan, jika ada orang yang melakukan perbuatan maksiat, kemudian orang tersebut ingin bertaubat dengan memberi tahu orang lain dan mengakui kemaksiatannya, maka itu salah dan tidak dibenarkan dalam syariat. Sebab jika hal tersebut diceritakan, berarti sama saja membuka apa yang Allah kehendaki untuk tetap tertutup. Karena salah satu sunnatullah adalah menutupi sesuatu yang jelek sebagaimana Allah disifati ستار العيوب (Zat Yang Menutupi Aib).

Faces Gcce72c41c 1920 1024x683
Foto: Pixabay.com

Gus Baha’ juga menganalogikan aib dengan manusia yang mempunyai sesuatu menjijikkan di dalam tubuhnya, yakni kotoran yang ada di perut. Dan Allah SWT. mendesain makhluknya supaya kotoran tersebut tidak terlihat. Begitulah sunnatullah, apa saja yang tidak pantas dilihat, maka akan ditutupi. Imam Tajuddin Ibn ‘Athaillah As-Sakandari dalam kitabnya Al-Hikam berkata:

مَنْ أَكْرَمَكَ إنَّما أَكْرَمَ فِيْكَ جَميلَ سَتْرِهِ فَالحَمْدُ لِمَنْ سَتَرَكَ، لَيْسَ الحَمْدُ لِمَنْ أَكْرَمَكَ وَشَكَرَكَ

“Siapa yang memuliakanmu, maka sebenarnya ia memuliakan indahnya penutup yang Allah selipkan pada dirimu. Karena itu, segala pujian hanya bagi Allah yang telah menutupimu, bukan bagi orang yang telah memuliakan dan berterimakasih kepadamu.”

Beliau juga mengutip sebuah hadits Nabi SAW. yang bermakna, “Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut.” Hadits ini sangat selaras dengan orang-orang yang suka berbangga-bangga dengan keburukannya padahal Allah sudah menutupi hal tersebut. Perbuatan demikian justru akan mempersulit kita mendapat pengampunan dari-Nya.

Berdasarkan penjelasan diatas, apakah dengan menutupi aib menjadikan kita munafik? Kita sepakat bahwa kejujuran dan berkata benar merupakan hal yang terpuji dan teladan. Akan tetapi, dalam permasalahan aib atau maksiat, kita diwajiibkan menutupi dan merahasiakan agar tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Karena terkadang orang lain menghargai kita sebab mereka tidak mengetahui keburukan apa yang kita tutupi, sekaligus menutup aib sendiri itu adalah suatu keharusan dalam agama. Dan juga jika aib kita diketahui oleh orang lain, maka akan ada kemungkinan orang berasumsi atau menghina kita karena tau keburukan yang sebenarnya. Namun dalam beberapa permasalahan, perbutan maksiat atau dosa dapat diceritakan secara terang-terangan, yakni ketika sudah berhubungan dengan tindak kriminal. Maka itu bukan lagi termasuk aib yang harus ditutupi, bahkan harus diceritakan kepada pihak yang berwenang.

Menutup aib diri sendiri bukan berarti menjadikan kita munafik. Menurut saya, membuat citra itu lebih baik daripada mengumbar aib, karena dengan mengumbar aib bisa menjadikan maksiat semakin wajar di kalangan masyarakat. Lagi pula jika kita berbuat dosa atau maksiat, hal yang harus kita lakukan adalah bertaubat, bukan malah mengakuinya dan bercerita ke orang lain atau bahkan memamerkannya. Selama aib masih tertutup, maka jangan ceritakan kepada siapapun kecuali dalam keadaan terdesak. Kita tidak tahu bagaimana hinanya kita dengan aib yang kita punya jika semua orang mengetahuinya. Semoga Allah selalu menutup semua kekurangan dan kesalahan kita.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *