Beranda Opini Menikah di tengah Fase Studi S1 Luar Negeri; Pilihan atau Tantangan?
Opini

Menikah di tengah Fase Studi S1 Luar Negeri; Pilihan atau Tantangan?

Dipublikasikan pada 03/10/2026

Pinterest.com

Sebuah tulisan yang murni diangkat dari keambiguan atas ribuan pertanyaan yang bercecer di kepala selama berbulan-bulan lamanya. Perlu diketahui bahwasannya tulisan ini telah didiskusikan dengan melibatkan banyak isi kepala dalam beradu argumen. Tentu saja nanti akan menimbulkan pro-kontra bagi siapapun usai membacanya. Selain itu, pembaca dapat menyimpulkan, sebenarnya sudut pandang seperti apa yang ingin penulis sampaikan.

Ada satu fenomena sosial yang penulis amati, yang agaknya menjadi tren di kalangan masisir, yaitu menikah di tengah fase menjalani studi S1. Fenomena menikah muda biasa terjadi pada rentang usia dewasa awal.

Bukti konkret yang bisa kita lihat bersama yaitu, dalam beberapa pekan setelah libur panjang musim panas beranjak, sudah berapa banyak undangan online atau postingan foto berlatar biru yang berseliweran di story media sosial kalian?

Yang membuat sedikit kontroversi dan cukup menarik untuk ditelaah adalah apa alasan yang akhirnya mereka ambil untuk memutuskan menikah di tengah studi S1.

Sebenarnya, tidak masalah saja buat siapa pun masisir memutuskan untuk menikah, toh jikalau memang sudah waktunya, calon sudah ada, kesiapan mental, kedewasaan berpikir ataupun finansial memadai, kenapa tidak? Yang justru dipertanyakan malahan dengan siapa orang tersebut menikah? Apakah sudah tamat kuliahnya atau masih di pertengahan kuliah? Sudah pasti pertanyaan seputar hal seperti itu yang akan terus diperbincangkan. Terlebih jika salah satu dari pasangan tersebut cukup famous di kalangan masisir.

Mereka tidak mempertanyakan alasan yang lebih krusial, misalnya bagaimana prioritas studi mereka akan berjalan stabil jika menikah di tengah fase tersebut? atau apakah aspek tanggung jawab finansial mereka juga akan terpenuhi?

Sebagian mahasiswa ada yang sejak awal berangkat ke Mesir berpegang teguh pada prinsip, tidak boleh mengotak-atik perkuliahan dengan tiba-tiba menambahkan satu wish list pernikahan di tengah fase studi. Target menamatkan perkuliahan menjadi prioritas dan keputusan menikah bisa dikesampingkan setelah tamat S1. Namun, tidak bisa dipungkiri ada juga sebagian orang yang sambil menyelam minum air. Sebagaimana kalam hikmah yang pernah Syeikh Fauzi Konate katakan di tengah pengajian, “yajma’ baina husnayain”, menggabungkan dua kebaikan sekaligus, yaitu kuliah dengan menikah.

Jika kedua kubu pro-kontra beradu opini sekalipun, masing-masing punya jawaban yang tak terelakkan. Bagi orang yang berpandangan kontra, pernikahan di tengah perkuliahan merupakan distraksi, karena akan menggeser skala prioritas dan mengganggu fokus belajar. Selain itu, menggabungkan belajar dengan mengurus keluarga di waktu muda merupakan salah satu hal yang sangat sulit tuk berjalan beriringan.

“Banyak juga kok, yang berhasil, bahkan mereka masih bisa mempertahankan predikat Mumtaz.”

Memang benar hal tersebut telah dialami oleh senior-senior kita dan saya pribadi tidak menyangkal kemungkinan itu terjadi. Yang saya persoalkan adalah bukan berarti anggapan keberhasilan sebagian pasangan bisa disamaratakan bagi semua lapisan mahasiswa. Kalaupun berhasil pasti ada salah satu dari banyaknya hal yang harus dikorbankan.

Sebaliknya, dari perspektif kubu pembela paling tidak yang biasa mereka klaim ya seperti: adanya dukungan emosional yang lebih dekat di tengah frustasi menghadapi tekanan studi, ada pasangan yang selalu bisa diandalkan ketika jauh dari orang tua, adanya ruang aman untuk saling melindungi, dan alasan-alasan lainnya.

Pasalnya, ada pengalaman dari seorang teman yang memiliki anak di pertengahan kuliah. Setelah persalinan, ia mengaku jadi mudah lupa, pikiran kosong dan sulit fokus. Intinya tidak seperti masa lajang dulu. Anggapan mengenai putusnya syaraf seorang ibu dikarenakan terlalu keras mengejan saat melahirkan si jabang bayi, akankah menurut catatan medis membenarkan hal tersebut?

Kondisi seorang ibu yang menjadi pelupa dan sulit fokus setelah melahirkan adalah hal yang nyata dan sangat normal, sering disebut sebagai mommy brain atau momnesia, sebagai akibat dari perubahan hormon dan otak, kurang tidur saat mengurus bayi, dan stres.  Namun, perubahan tersebut tidak serta-merta dapat disimpulkan akibat dari syaraf yang putus karena mengejan (alodokter.com).

Cerita dari teman seumuran tersebut tentu bukan bermaksud menakut-nakuti. Justru bisa dilihat sebagai pertimbangan bahwa kesiapan fisik dan mental yang perlu dipikirkan begitu matang, sebelum memutuskan untuk menjalankan banyak peran sekaligus dalam waktu yang sama.

Coba pikirkan baik-baik bagi siapa pun perempuan yang sedang studi S1 di luar negeri, terkhusus masisirwati yang seumuran dengan saya. Apakah kalian sudah siap menghadapi segala risiko yang ada ketika semua datang bergerombol tanpa aba-aba. Mengurus rumah tangga, hamil, persalinan, mengasuh anak, belum lagi tuntutan akademik yang tetap berjalan di tengah fase new born?

Karena menikmati waktu muda untuk lebih mengenal jati diri dan mendapatkan kebebasan fokus belajar itu tidak ada gantinya. Sedangkan, waktu untuk mengabdikan diri membina keluarga itu terbentang selamanya. Sebab, kita sudah tidak lagi hidup di zaman yang menjadikan pernikahan sebagai satu-satunya tolok ukur atas keberhasilan suatu individu.

Pinterest.com

Bagaimana jika aspek finansial turut menjadi persoalan? Mereka masih ditopang salah satu pihak keluarga, atau kalau boleh saya katakan, sedang memanfaatkan privilese yang ada? Jadi tidak terlalu susah payah memikirkan nafkah rumah tangga, karena pemasok utama bersedia meng-cover penuh kehidupan rumah tangga pasutri baru tersebut. Lantas, apakah yang sebenarnya terjadi adalah bukti dari ketidaksiapan orang tua melepas anak untuk membina rumah tangga sendiri? Antara tega dan tidak melepas keduanya untuk mencoba berdiri sendiri memulai babak baru dalam dunia pernikahan?

Dan apakah benar jika keduanya sudah saling suka, ditambah kedua keluarga saling berkenan dan merestui risiko yang mungkin terjadi, bisa dijadikan alasan untuk menyegerakan pernikahan? Karena yang saya amati, bahwa hal tersebut bisa dikatakan sebuah pengecualian bagi sebagian kalangan yang berada saja dan bagi mereka yang mempunyai privilese. Mungkin begitu.

“Ya, tapikan orang tua mereka menyanggupi. Lalu, di mana letak titik permasalahannya?”

Itu bagi orang yang memiliki privilese. Lantas, bagaimana dengan yang terlahir biasa-biasa saja, katakan perintis bukan pewaris. Akankah masih berani mengambil risiko menikahi anak orang begitu saja? Rasanya berani-berani sekali Anda mengajak anak orang hidup susah dari nol.

Sekarang begini saja, di situ siapa yang akan menjalani kehidupan rumah tangga? Ya, tentu saja mereka berdua. Mengapa justru mereka membuat orang tua makin jungkir balik dengan membiayai kehidupan mereka yang sebenarnya itu adalah tanggung jawab mereka berdua sendiri? Menurut saya aneh saja rasanya. Logika saya tidak sampai pada hal sekrusial finansial masih melibatkan campur tangan orang tua.

Urusan nafkah merupakan tanggung jawab suami. Jika istri berkenan menoleransi sebagian haknya bukankah itu akan mempermudah tanggung jawab suami? Dalam arti, suami masih berusaha menghidupi keluarga kecil yang mereka bangun, meskipun income-nya tidak sebanyak pemasok utama, yaitu orang tua.

Jika yang membaca tulisan ini laki-laki, saya ingin bertanya, bagaimana seorang laki-laki memosisikan diri di hadapan mertua, jika dihadapkan persoalan seperti itu? Satu sisi telah memutuskan ‘mengambil’ anak orang dari ibu bapaknya, tapi di sisi lain seharusnya nafkah menjadi tanggung jawab suami secara penuh justru masih dipikul orang tua?

Pinterest.com

Terkadang kita perlu meluruskan kusutnya benang di kepala. Namun nyatanya tidak semua benang kusut sanggup kita rapikan. Adakalanya ia dibiarkan tergeletak begitu saja di sudut ruang pikiran. Siapa tahu besok-besok kita sudah lupa, bahwa benang di sudut sana pun dulunya juga pernah kusut.

Bukankah sangat wajar, jika penulis meresahkan hal-hal seperti ini selama berbulan-bulan lamanya. Dan sampai kapan pun penulis tidak akan pernah tahu, bahwa latar belakang seperti apa yang mereka ambil untuk memutuskan menikah di tengah perkuliahan S1. Itu semua akan terjawab jika kita merasakan sendiri bagaimana ketika berada di posisi tersebut. Karena ada sesuatu yang mereka pahami yang kita sendiri pun belum memahaminya.

Winda Fitria Lelana

Kontributor

Kontributor dan penulis artikel di Saung Gagasan TC.

1 respon

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ahmad Musyfiq
berkata:
03/10/2026 pukul 11:52 pm

Menurut saya tulisannya menarik, apalagi kita sama-sama tahu sedikit banyak realitas kehidupan Masisir. Tapi setelah baca, saya merasa persoalan menikah di tengah S1 itu sebenarnya cukup kompleks untuk disimpulkan hanya sebagai pilihan atau tantangan.

Karena kalau melihat realitas di lapangan, keduanya bisa benar. Ada teman yang menikah ketika masih kuliah dan justru merasa lebih tertata, lebih tenang, bahkan punya teman berjuang selama di Mesir. Tapi ada juga yang setelah menikah ternyata harus berhadapan dengan persoalan ekonomi, tempat tinggal, kuliah, kebutuhan keluarga, sampai hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Jadi menurut saya variabelnya cukup banyak. Kondisi ekonomi masing-masing, ada atau tidaknya support dari keluarga, karakter pasangan, kematangan dalam menyikapi masalah, beban kuliah, bahkan lingkungan tempat tinggal di Mesir. Karena pengalaman satu orang tidak selalu bisa dijadikan ukuran untuk orang lain.

Saya juga merasa kadang kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa menikah ketika masih kuliah itu pasti lebih baik, atau sebaliknya harus menunggu sampai lulus dan mapan. Padahal ukuran “siap” setiap orang berbeda. Ada yang secara materi sederhana tapi mental dan pasangannya sudah siap. Ada juga yang secara ekonomi cukup, tapi secara emosional belum siap memikul kehidupan berdua.

Mungkin yang lebih menarik justru bukan pertanyaan “menikah saat S1 itu pilihan atau tantangan?”, tapi “dalam kondisi seperti apa menikah saat S1 bisa menjadi pilihan yang baik, dan dalam kondisi seperti apa justru menjadi tantangan?”

Karena pada akhirnya, yang kita jalani di Mesir ini bukan hanya soal status mahasiswa atau status suami/istri. Ada banyak variabel yang ikut bermain. Dan menurut saya, di situlah realitasnya menjadi jauh lebih menarik untuk dibicarakan. Hehe

Kembali ke Beranda