Beranda Opini Perang adalah Tabiat Manusia (?)
Opini

Perang adalah Tabiat Manusia (?)

Dipublikasikan pada 18/09/2026

“Perang tidak akan pernah berakhir sepenuhnya, ia akan terus berkembang, ia selalu datang dengan bentuk yang baru.” A.W. Exley

Sepertinya kutipan dari Exley di atas sangat sulit untuk kita bantah. Dalam perjalanan sejarah peradaban manusia, perang adalah satu hal yang selalu menyertai. Dari zaman imperium kuno hingga era modern, dengan senjata-senjata klasik hingga senjata nuklir pemusnah massal, perang selalu hadir di tengah-tengah manusia. Bahkan saat ini kita juga sedang menyaksikan perang—atau lebih tepatnya genosida—antara Israel dengan Palestina yang kian berlarut. Beberapa fakta terkait perang dan hubungannya dengan peradaban manusia membuat saya ingin mempertanyakan dua hal dalam tulisan ini, apakah perang adalah sesuatu yang bersifat naluriah atau tabiat bagi manusia? Jika bukan, lantas mengapa perang selalu hadir di tengah peradaban manusia dari masa ke masa?

 Untuk menjawab pertanyaan di atas saya akan menghadirkan pandangan para tokoh sosiologi yang memiliki gagasan seputar permasalahan tersebut. Secara umum, ada dua pendapat terkait perang dan kaitannya dengan tabiat manusia. Pendapat pertama mengatakan bahwa perang atau hal-hal yang bersifat konfrontatif antargolongan merupakan tabiat asli manusia. Secara naluriah, manusia memang selalu ingin memusuhi satu sama lain. Sementara pendapat kedua mengatakan sebaliknya, manusia adalah makhluk yang mencintai kehidupan dan kedamaian. Di sini, saya akan memulai pembahasan dengan menghadirkan pandangan tokoh yang cenderung pada pendapat pertama, salah satunya ialah Thomas Hobbes.

Di dalam buku Leviathan, Hobbes mengatakan bahwa manusia secara tabiatnya selalu merasa curiga dengan manusia-manusia lain. Karena rasa curiga tersebut, mereka punya tabiat ingin saling menghancurkan satu sama lain. Hobbes mengistilahkan dengan “homo homini lupus” (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya). Sebab alasan tersebut, manusia akhirnya saling bersepakat untuk membentuk suatu otoritas atau hukum di tengah-tengah mereka. Hukum inilah yang akhirnya dapat meredam kekacauan akibat sifat dasar manusia yang saling memusuhi. Pada intinya, Hobbes tetap meyakini bahwa manusia memiliki karakter bawaan berupa saling memusuhi manusia atau kelompok lain. Otoritas hukum memang dapat meredam hal tersebut, namun ia tidak mampu menghapus karakter bawaan manusia.

Senada dengan Thomas Hobbes, Sigmund Freud juga mengatakan bahwa manusia memiliki sifat bawaan saling memusuhi dan suka peperangan. Namun dalam buku Why War? Freud mengatakan bahwa sifat bawaan manusia tidak hanya saling memusuhi manusia atau kelompok lain. Freud membagi naluri manusia menjadi dua, selain suka perang dan konfrontasi, manusia juga menyukai kehidupan dan kedamaian. Ikatan antara perang dengan peradaban manusia adalah ikatan yang cukup kuat. Sampai-sampai Freud mengatakan bahwa sejarah peradaban manusia adalah sejarah perang itu sendiri. Setiap masa dan setiap tempat yang dilalui umat manusia, pasti ada perang di sana.

Di lain sisi, tidak sedikit tokoh ilmu sosiologi yang memiliki pandangan sebaliknya. Artinya, beberapa tokoh tersebut memiliki pandangan bahwa tabiat asli manusia adalah sebagai yang mencintai kedamaian. Tokoh yang paling kita kenal dengan pendapat tersebut adalah Ibnu Khaldun. Tokoh sosiologi berkebangsaan Maroko tersebut terkenal dengan ungkapan bahwa tabiat manusia adalah makhluk sosial (al-insân madaniyun bi al-thab’i). Manusia selalu membutuhkan manusia-manusia lain di dalam hidupnya. Secara tidak langsung, Ibnu Khaldun mengungkapkan bahwa manusia yang pada dasarnya selalu berdampingan dengan orang lain, tidak mungkin pada tabiatnya menyukai konfrontasi antargolongan.

Menurut saya, pendapat Erich Fromm, sosiolog asal Jerman, tentang perang dan manusia juga cukup menarik. Ia termasuk di antara yang mengatakan bahwa manusia memiliki naluri perdamaian, bukan peperangan. Yang menarik dari Erich Fromm adalah ia juga menyebutkan riset-riset psikologis untuk membuktikan bahwa naluri manusia tidak menyukai pertikaian, khususnya perang. Hal ini ia paparkan di dalam salah satu bukunya, The Anatomy of Human Destructiveness. Beberapa riset sejatinya telah banyak membuktikan hal tersebut. Salah satu yang dapat menjadi landasan kuat adalah penelitian yang dilakukan terhadap para tentara setelah mereka pulang dari medan perang. Terbukti bahwa orang-orang itu mengalami pengurangan volume otak yang berlangsung terus-menerus bahkan hingga enam bulan. Hal ini dikaitkan dengan rasa trauma dan stress yang dialami oleh mereka. Jika saling membunuh adalah tabiat manusia, tentu tentara-tentara tidak akan mengalami guncangan seperti itu.

Setelah kita mengetahui bahwa perang bukanlah sifat bawaan manusia, lalu mengapa dalam rangkaian sejarah manusia selalu saja ada peperangan? Tentu saja jawabannya ialah berasal dari hal-hal eksternal dari tabiat manusia. Gambaran umumnya, para sosiolog menjelaskan bahwa perang dan pertikaian antargolongan manusia yang selalu kita jumpai bersumber dari apa yang disebut dengan “identitas”. Ketika manusia mulai hidup berkelompok, mereka akan saling mengidentifikasi manusia-manusia lain yang memiliki berbagai kesamaan dengan mereka. Lalu sekelompok orang dengan latar belakang, karakter, dan sifat yang sama, terpayungi dalam satu identitas. Nah, identitas inilah yang membuat semacam jarak antara sekelompok orang dengan kelompok lain yang memiliki identitas berbeda. Bisa dikatakan, sumber perang berasal dari pergesekan antara dua identitas atau lebih tersebut.

Konfrontasi antaridentitas sejatinya dapat disebabkan oleh beberapa hal, namun di sini saya akan fokus pada dua faktor utamanya, yaitu pergesekan antarnilai dan hasrat ingin mendominasi. Saya akan membahas gesekan antarnilai terlebih dahulu. Suatu kelompok manusia cenderung mudah berkonfrontasi dengan kelompok lain karena berbagai nilai yang berbeda dan saling berbenturan. Hal ini dikarenakan mereka menganggap nilai yang mereka anut adalah yang terbaik, sedangkan nilai kelompok lain salah dan berhak disingkirkan.

Di antara sejarah perang yang disebabkan gesekan antarnilai ialah perang-perang antaragama, seperti serangkaian Perang Salib antara umat Islam dengan Kristen. Termasuk pula konflik Israel-Palestina yang berlarut-larut. Kemudian perang antarsuku juga termasuk konflik antaridentitas yang disebabkan oleh pergesekan nilai. Hampir di setiap negara dapat dijumpai konflik atau perang antarsuku, tidak terkecuali Indonesia. Negara Indonesia dengan beragam sukunya cukup sering terjatuh dalam konflik antarsuku, seperti konflik antara Suku Nduga dan Lani Jaya di Papua, konflik Suku Dayak dengan Madura dan lain-lain.

Selanjutnya, penyebab utama perang adalah keinginan untuk mendominasi. Ia memiliki kaitan erat dengan gesekan antaridentitas kelompok manusia. Hasrat ingin mendominasi, menuntut sekelompok orang dengan identitas tertentu untuk berusaha mengalahkan kelompok dengan identitas lain. Dominasi tersebut bisa melalui pencaplokan wilayah atau penanaman pengaruh ekonomi dan politik. Saya akan menyebutkan beberapa contoh perang yang dimulai dari hasrat ingin mendominasi yang lain. Contoh paling dekat dengan kita adalah kolonislisme Belanda terhadap Indonesia dan kolonialisme negara-negara besar Eropa terhadap beberapa wilayah Asia Tenggara lainnya. Begitu pula dengan Nazi yang memilki keyakinan sebagai ras terpilih. Mereka merasa boleh mendominasi—bahkan memusnahkan—beberapa ras yang mereka anggap musuh, seperti ras Yahudi, Polandia, dan Roma (Gipsi). Hasrat tersebut akhirnya menjadi latar belakang peristiwa Holokaus.

Setelah era Perang Dunia II usai, peradaban yang memiliki hasrat tinggi untuk mendominasi dunia adalah Barat, khususnya Amerika Serikat. Mereka berusaha menancapkan dominasi dan pengaruh entah di bidang ekonomi, budaya, bahkan militer. Contohnya adalah ketika mereka selalu ikut campur urusan negara-negara di Timur Tengah, seperti perang Irak-Iran, konflik di Afghanistan, bahkan termasuk konflik Israel-Palestina saat ini. Dari beberapa konflik tersebut, secara tidak langsung Amerika Serikat ingin ikut memantau wilayah Timur Tengah supaya tetap berada di bawah pengaruh mereka. Beberapa jurnal yang saya baca menjelaskan bahwa alasannya ialah minyak yang melimpah di kawasan tersebut. Selain itu alasan ideologis juga menjadi latar belakangnya. Amerika Serikat tidak ingin nagara-negara Arab-Islam bangkit dan mencapai kejayannya kembali.

Wabakdu, pada hakikatnya, perang bukanlah tabiat asli manusia, karena pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang mencintai hidup dan perdamaian, bukan kematian dan pertikaian. Namun, ada faktor eksternal yang menyebabkan sekelompok manusia saling bertikai bahkan hingga berperang. Dalam tulisan ini, saya menyebutkan dua faktor utamanya, yaitu gesekan nilai antarkelompok dan keinginan untuk mendominasi yang lain. Selama dua faktor tersebut masih ada, maka perang tidak akan pernah usai. Meski demikian, bukan berarti usaha-usaha untuk menghentikan perang tidak ada sama sekali. Selain itu, yang paling penting adalah perang juga memiliki aturan-aturan internasional yang telah disepakati. Serangan-serangan militer yang memakan korban sipil, wanita, dan anak-anak sebagaimana yang dilakukan Israel adalah tindakan yang sangat tercela.

Muhammad Alfin Ghozali

Editor

Kontributor dan penulis artikel di Saung Gagasan TC.

0 respon

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Beranda