Beranda Warta Rayakan HUT ke-17, Tebuireng Center Membincang Pemikiran Mbah Hasyim Melalui Seminar Tokoh Keagamaan
Warta

Rayakan HUT ke-17, Tebuireng Center Membincang Pemikiran Mbah Hasyim Melalui Seminar Tokoh Keagamaan

Dipublikasikan pada 20/11/2024

Dalam rangka perayaan HUT (Hari Ulang Tahun) ke-17, Tebuireng Center mengadakan Seminar Tokoh Keagamaan dengan tajuk “Pemikiran Hadratussyaikh K.H Hasyim Asy’ari dalam Memperkuat Keagamaan dan Nasionalisme”. Berkolaborasi dengan PCINU Mesir, acara ini dilaksanakan pada Rabu, 20 November 2024 di Aula KMJ, Hay Asyir.

Seminar ini menghadirkan beberapa tokoh, seperti KH. Faiz Husaini LC. M.A. (Ketua Tanfiziah PCINU Mesir) dan Dr. Mohamad Anang Firdaus, S.A, (Wakil Rektor Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng sekaligus Pimpinan Tim Pengkaji Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari). Selain itu, KH. Ihya Ulumuddin, Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama (PWNU), turut terlihat hadir.

Tepat pada pukul 14.30 WLK, Ratu Fatimah Zahro bersama Faiz Alfian Saputra membuka acara ini, kemudian dilanjut dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an oleh Zufar Abdurrohim Hasby. Setelah itu, acara berlanjut pada sambutan pertama yang disampaikan oleh Faizurrahman, selaku Ketua Pelaksana Harlah Tebuireng Center ke-17.

”Jika kita belum bisa meneladani akhlak Hadratussyaikh dengan sepenuhnya, maka jangan meninggalkan seluruhnya. Kalau kata kaidah fikihnya, yakni . ما لا يدرك كله لا يترك كله  Jika kita tidak bisa meneladani akhlak beliau secara kafah atau seutuhnya, mungkin kita bisa meneladani sikap beliau yang mampu kita lakukan.”

Sambutan kedua disampaikan oleh Ramadhani Ikrar, Ketua Tebuireng Center. Ia menyambut hangat seluruh peserta dan tamu undangan yang hadir, serta mengapresiasi kerja keras panitia yang turut berkontribusi menyelenggarakan acara. Ia juga menuturkan bahwa seminar ini merupakan agenda pembuka rangkaian Harlah TC, dengan pemilihan tema yang merupakan pengingat perihal kewajiban mengabdi untuk agama dan negara—saat kelak kembali ke tanah air.

Sambutan selanjutnya disampaikan oleh M. Syihabudin Alawy, tamu undangan dari PCINU Mesir. Sosok Ketua LDNU tersebut mengungkapkan kekagumannya terhadap tema yang diusung, serta konsep kegiatan yang menurutnya mampu mendukung keilmuan Masisir, terkhusus kader Nahdhatul Ulama’. “Kita di sini tidak akan mempunyai pemikiran seperti ini kalau bukan karena jasa Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari”, tuturnya.

Ia juga mengingatkan untuk dapat mengambil ibrah dari berbagai macam sejarah yang selanjutnya dapat diwariskan pada generasi baru—mengingat banyak dari mereka yang alpa terhadap sejarah. Terakhir, Alawy berharap agar kader Nahdliyin tidak hanya mengikuti arus pemikiran yang ada di luar, tetapi juga harus mempunyai prinsip kuat untuk mengemban amanah keilmuan, sebagaimana Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Usai sesi sambutan, acara berlanjut pada sesi diskusi yang dipimpin oleh Alfan Yusuf Mustafa, Lc. Dipl. selaku moderator. Materi pertama disampaikan oleh KH Faiz Husaini Lc, MA. Beliau menyampaikan bahwa sosok Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari adalah sosok yang susah sekali untuk ditandingi. Oleh karena itu, gelar “Rais Akbar” hanya disematkan kepada beliau. Terlebih, beliau juga memiliki hubungannya yang sangat kuat dengan para tokoh agama nusantara maupun lintas negara pada masa itu.

KH. Faiz juga menyampaikan bahwa Hadratusyaikh adalah orang yang sangat dermawan. Diceritakan bahwa setiap Hadratusyaikh kedatangan tamu, beliau menyembelih sapi atau kambing sebagai bentuk sikap menghormati tamu. Selain itu, Hadratussyaikh juga cukup serius dalam menyinggung perihal nasionalisme dan berkebangsaan di kitabnya berjudul ”At-Thibyan”. Beliau menyerukan persatuan, serta ajakan untuk menghindari cerai berai; bermusuhan; serta saling menghasut satu sama lain.

Berlanjut pada pembicara kedua, yakni Dr. Mohamad Anang Firdaus, S.A. Beliau menyampaikan bahwa perjuangan Hadratussyaikh tidak hanya dalam perkembangan ilmu semata, melainkan termasuk dalam nasionalisme yang tinggi terhadap Indonesia. Hadratussyaikh termasuk pihak yang berandil besar dalam mobilisasi pertempuran 10 November 1945. Terbukti dari resolusi jihad yang dicetuskan pertama kali pada 17 September 1945 di Tebuireng, kemudian berlanjut di Surabaya, Yogyakarta, hingga seluruh Indonesia.

Perjuangan ulama yang demikian, menurut Dr. Mohamad Anang, adalah hal yang luput dari perhatian pemerintah kala itu. Seolah-olah, tugas ulama hanyalah mengajar ilmu agama, dan bukanlah sosok yang dapat berandil besar dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

Terakhir, sesi diskusi ditutup dengan mauizah hasanah oleh Kiai Ihya Ulumuddin. Beliau berpesan untuk senantiasa meniatkan diri menjadi bagian dari NU, tatkala diberi amanah sebagai pengurus NU, baik di tingkat manapun. ”Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari telah menjamin siapa saja yang berkhidmat di NU, akan diakui sebagai santri dan didoakan husnul khatimah.”

Sennecha Liavkhirotin Najwa

Penulis

Kontributor dan penulis artikel di Saung Gagasan TC.

0 respon

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Beranda