Beranda Ruang Gagasan Islamisasi sebagai Perlawanan Hegemoni Barat (?)
Ruang Gagasan

Islamisasi sebagai Perlawanan Hegemoni Barat (?)

Dipublikasikan pada 25/09/2026

Sumber: Pinterest.com

Semenjak era Renaisans, ilmu pengetahuan di Barat berkembang secara progresif dengan menekankan aspek empiris, rasional, dan materialistis. Perolehan ilmu pengetahuan modern cenderung dibatasi pada aspek rasional dan pengalaman empiris. Dominasi paradigma ini sering kali memosisikannya secara netral dan bebas nilai, sehingga aspek spiritualitas kerap terpinggirkan dari kerangka ilmu pengetahuan.[1] Para pemikir muslim kontemporer kemudian memandang sains tidak berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam yang menekankan aspek spiritual, moral, dan etik. Demi merespon fenomena tersebut, muncul konsep islamisasi ilmu pengetahuan yang berupaya mengintegrasikan nilai-nilai Islam pada ilmu pengetahuan modern.

Islamisasi ilmu pengetahuan merupakan respons intelektual yang berupaya menjawab tantangan dominasi sekulerisasi pengetahuan yang berkembang di Barat. Dalam pandangan Islam, ilmu pengetahuan tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab moral dan spiritual. Pertanyaannya, apakah islamisasi ilmu pengetahuan merupakan proyek epistemologis yang berusaha menghidupkan kembali dimensi spiritual dalam kerangka ilmu pengetahuan, atau justru kedok yang dipakai pemikir muslim untuk meruntuhkan dominasi Barat?

Pandangan islamisasi pertama kali dirumuskan secara sistematis oleh Ismail Raji al-Faruqi pada akhir abad ke-20. Melalui buku Islamization of Knowledge: General Principles and Work Plan (1982), al-Faruqi berpendapat bahwa islamisasi ilmu pengetahuan merupakan proses integrasi ajaran Islam ke seluruh ilmu pengetahuan, baik metodologi, tujuan, maupun orientasinya. Tujuan utama dari islamisasi ilmu pengetahuan adalah menjadikan wahyu dan akal sebagai sumber pengetahuan yang sah. Ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan harus patuh pada prinsip-prinsip tauhid.[2] Oleh karena itu, iman dan moral tidak boleh terpisah dari kerangka ilmu pengetahuan.

Ilustrasi Renaisans Barat. Sumber: https://www.scitechsociety.com/

Islamisasi ilmu pengetahuan menurut al-Faruqi berangkat dari lima prinsip utama, yaitu (1) tauhid sebagai pondasi segala ilmu, (2) kesatuan antara ilmu dan nilai Islam, (3) kesatuan antara ilmu dan sejarah peradaban Islam, (4) kesatuan antara teori dan praktik, dan (5) kesatuan antara ilmu dan tujuan hidup. Melalui lima prinsip ini, ilmu pengetahuan dapat dikaji ulang dan dinilai sesuai dengan worldview Islam. Tidak hanya itu, ia juga menyiapkan langkah implementatif dalam mengupayakannya, seperti penguasaan warisan keilmuan klasik dan ilmu modern, analisis terhadap pengetahuan Barat, dan rekonstruksi kurikulum pada institusi pendidikan agar sesuai dengan ajaran Islam.[3]

Di sisi lain, terdapat pemikir muslim abad ke-21 dari Malaysia yang mengusulkan hal sama. Dalam buku Prolegomena to the Metaphysics of Islam, Syed Muhammad Naquib al-Attas  menegaskan pentingnya islamisasi dan integrasi ilmu. Islamisasi dipahami sebagai upaya untuk membebaskan ilmu dari dominasi worldview Barat yang sekuler, sekaligus menekankan kembali perspektif ajaran Islam sebagai pondasi ilmu pengetahuan. Sementara itu, integrasi ilmu dimaknai sebagai penggabungan antara agama, sains, dan etika dalam suatu kerangka yang menyeluruh. Integrasi ilmu berangkat dari prinsip Islam yang menempatkan tauhid sebagai pondasi, sehingga ia menolak dikotomi antara agama dan ilmu sebagaimana yang diwariskan Barat, karena hal tersebut mengakibatkan krisis epistemologis yang menjauhkan ilmu dari wahyu.[4]

Karakter utama dari integrasi ini terletak pada komponen etik yang melekat pada ilmu pengetahuan. Baginya, agama dan sains bukanlah dimensi yang bertentangan, melainkan dua sisi mata koin yang saling melengkapi. Al-Attas menganggap bahwa persoalan masyarakat muslim modern bukan hanya terletak pada degradasi ilmu, melainkan pula kehilangan etik di dalam ilmu. 

Islamisasi ilmu pengetahuan menurut al-Attas cenderung bersifat filosofis dan spiritual, bukan hanya rekonstruksi teknis ataupun metodologis. Meskipun memiliki corak yang sedikit berbeda dengan al-Faruqi, mereka sepakat bahwa islamisasi ilmu pengetahuan merupakan upaya rekonstruksi terhadap budaya epistemik Barat yang cenderung menganaktirikan dimensi etik, bukan sekadar untuk melabeli istilah-istilah Barat dengan diksi yang lebih religius.

Dengan demikian, tujuan utama dari islamisasi ilmu pengetahuan bukan sebagai resistensi terhadap hegemoni Barat secara mentah, melainkan untuk membangun sistem epistemologis yang mampu memadukan aspek rasionalitas dan spiritualitas. Islamisasi tidak dimaksudkan untuk menolak seluruh metode riset modern, melainkan mengkritisinya agar sesuai dengan sudut pandang dan prinsip ajaran Islam. Pandangan ini muncul bukan untuk merombak istilah-istilah Barat agar lebih agamis, melainkan sebagai alternatif epistemologis untuk mengoreksi ilmu pengetahuan modern agar tidak berfokus pada aspek empiris semata, tetapi juga mempertimbangkan dimensi spiritual dan moral.


[1] Rizky Firnanda & M. Husnaini, ISLAMISASI ILMU DI TENGAH ARUS MODERNITAS: ANALISIS TANTANGAN DAN PELUANG BERDASARKAN PANDANGAN AL-FARUQI DAN AL-ATTAS, AL HIKMAH: Jurnal Pendidikan dan Pendidikan Agama Islam, vol. 7 no. 2, (2025): 111

[2] Ibid., hal. 114

[3] Ibid., hal. 115

[4] Muhammad Jamaluddin, Kholili Hasib & M. Ardiansyah, Islamisasi dan Integrasi Ilmu Pengetahuan Dalam Perspektif Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Cognitive: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, vol. 3 no. 3, (2025): 21-23. DOI: https://doi.org/10.61743/cg.v3i3.159

Avatar photo

Aldi Susanto

Penulis

Redaktur Saung Gagasan TC. Mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyah Universitas Al-Azhar Kairo

0 respon

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Beranda