Airport G1aa9a1928 1920 1024x702
Foto: PIxabay.com

Pada hari Minggu sore dengan matahari yang begitu indah menyorotkan sinarnya membuat langit berwarna jingga. Seruan panggilan naik pesawat terdengar sahut-menyahut di balik pengeras suara. Antrean memanjang hampir di setiap portal pintu masuk. Layar informasi menyajikan jam penerbangan terus menerus. Para penumpang dengan tujuan dan jam terbang yang berbeda-beda sedang memperhatikan jadwal dan mencocokkannya dengan lembar tiket yang mereka pegang. Di sisi sebelah selatan, di tempat penjemputan, lalu lalang manusia tak kalah ramainya. Setiap dari mereka sedang menunggu seseorang yang dirindukan entah itu keluarga, sahabat, ataupun kekasihnya. Dan gadis itu, duduk di bangku paling belakang, mengenakan balutan gamis merah muda dan pashmina yang senada, tampak begitu anggun duduk seorang diri di antara hiruk pikuk ruang tunggu terminal tiga  bandara Ankara, Turki. Ia adalah Arunika Stephani Putri. Teman-teman dan keluarga memanggilnya Hani.

Saat ini terlihat jelas dari raut wajahnya yang sedari tadi terukir senyum, ia sedang bahagia. Betapa tidak sabarnya untuk bertemu dengan sosok sahabat yang begitu ia rindukan. Mengingat terakhir kali mereka bertemu tepat empat tahun yang lalu, di saat keduanya masih berseragam putih abu-abu. Lelaki yang menyukai senja, gitar, dan americano. Gara Adijaya Winata, seseorang yang  hampir mendekati kata sempurna. Salah satu murid yang famous, selain karena ia pernah jadi ketua Osis, tentu saja karena ia berparas tampan, beralis tebal dan berperawakan tinggi, terutama sifat lembutnya, lembut yang bukan alay, lembut yang tegas dan hangat, seakan tidak cocok dengan wajah yang terkesan cool itu.

 Bagi Hani, memiliki teman seperti Gara adalah suatu keberuntungan dan malapetaka. Pasalnya wajah tampan dan sifat lembutnya membuat tak sedikit wanita jatuh hati padanya, dan tak jarang juga ia harus menahan cemburu ketika beberapa wanita mencoba mendekati Gara. Cemburu yang mewakili rasa ingin lebih dari sekedar sahabat. Kalian tahu bagaimana ekspresi perempuan yang menahan cemburu terhadap sahabatnya sendiri? Tiga tahun berturut-turut ia selalu duduk bersebelahan dengan Gara. Bukan semeja, melainkan berseberangan, dipisahkan jarak satu meter yang digunakan untuk murid-murid berjalan. Iya, hanya satu meter, sependek itu jarak yang menunggu untuk dipangkas. Dan ketika jarak sependek itu gagal dipangkas dalam waktu tiga tahun, ia memanjang menjadi ribuan kilometer. Jarak, jarak, jarak, ucapkan kata itu sampai ia kehilangan makna.

***

Kala itu, empat tahun yang lalu, Gara berjanji akan mengunjungiku di ulang tahun ke dua puluh dua. Kenapa dua puluh dua? tanyaku agak protes. Dalam hati aku menggerutu, “Masih empat tahun lagi, masih empat puluh delapan bulan, masih dua ratus delapan minggu, masih seribu empat ratus enam puluh hari, lamaa!!”.

“Aku tahu angka dua adalah angka favoritmu, dan juga angka yang mengandung nomor dua. Angka dua banyak menunjukkan tentang dirimu. Kamu anak kedua, lahir di tanggal dua puluh dua, di bulan kedua belas. Nomor rumahmu juga dua puluh dua,” jawab gara yakin disertai senyum itu, senyum khasnya dengan ujung kiri pipi yang menujukkan lesung secara samar dan lekukan alis tebal yang sempurna.

Hari ini Gara akan menuntaskan janjinya, dan harusnya itu sudah lima jam yang lalu. Sudah lebih dari tiga jam aku duduk seorang diri di bangku paling belakang, tempat menunggu bagi para penjemput di terminal tiga bandara Ankara.

Sudah lebih dari dua belas kali aku mencoba menelpon Gara lewat Whatsapp, katanya dia akan langsung mengaktifkan jaringan internet begitu keluar dari pesawat. Dan sudah lebih dari dua puluh dua pesan aku kirim, tapi hanya terlihat tanda centang satu.

***

Raut muka Hani kini terlihat seperti tenggelam dalam gelisah. Duduknya pun sudah tidak tenang.  Saat dilihatnya langit berwarna abu kegelapan. Terdenggar suara gemuruh langit begitu mencengkam di gendang telinga, pertanda akan segera turun hujan. Sore yang jingga dan indah kini sudah hilang digantikan mendung gelap kelabu.

Airport G4e1dea245 1920 1024x576
Foto: PIxabay.com

Beberapa orang mulai terlihat khawatir. Ia kembali melihat jam tangan, sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sudah lebih dari lima jam Ia menunggu Gara sedari tadi. Dan berkali-kali pula Ia melihat layar HP, namun masih saja tanda centang itu berjumlah satu, tanda yang membuatnya semakin gelisah.

Secara refleks, ia menggigit bibir bawahnya, kebiasaan sejak kecil yang menjadi tanda bahwa hatinya sedang tidak baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda kedatangan sahabatnya hingga saat ini . “Bukankah jadwal  landing dua jam yang lalu,” berkali-kali ia mengecek tiket yang dikirimkan Gara.  Pikirannya sudah berlarian kesana-kemari, membayangkan sesuatu terjadi di sana.  “Ah tidak mungkin, pasti keberangkat sedang ditunda saja.” Lagi-lagi Hani menyakinkan dirinya sendiri.  Pandangannya tidak pernah lepas dari arah pintu arrival yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk, sembari menggenggam erat pigura kecil di tangannya. Dalam pigura itu ada foto dua remaja tersenyum lebar mengenakan seragam putih abu-abu.  

 ***

Muncul di layar pengumuman bandara, bahwa pesawat Turkish Airlines penerbangan TA737 dengan tujuan bandara Ankara mengalamai hilang kontak setelah tiga puluh empat menit lepas landas dari bandara Doha.

Dadanya terasa teramat sakit, tubuhnya seakan membeku, bahkan untuk melangkahkan kaki saja ia sudah tidak mampu. Tangisan yang ia tahan sejak tadi tak mampu lagi dibendung tatkala melihat sosok Manda, adik Gara yang kedua berlari ke arahnya. Lantas Manda langsung  memeluknya. Manda datang diwaktu yang tepat. Kini air matanya mengalir semakin deras. Ia sudah tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar. Saat ini dunianya hancur.

***

“Berita ini nggak benar kan, kak? Bang Gara dimana, kak? Abang aku mana?” isak Manda sembari menatap mataku penuh harap.

Aku hanya diam sambil menangis, bibirku kelu, suaraku hilang, aku tak bisa berkata-kata .

“Kakak jawab, kak?! Bang Gara mana?!” Manda menangis semakin histeris.

“Bang Gara pasti ketemu, dek. Bang Gara pasti balik, Bang gara pasti nepatin janjinya buat datang ke ulang tahun kakak, Bang Gara gak mungkin bohong, kakak yakin,” jawabku yang sebenarnya mencoba meyakinkan diri sendiri.

***.

Setelah seminggu tidak ada lagi kabar darimu. Dengan berat hati kuambil ponsel lamaku, sengaja aku mengganti ponsel baru karena aku ingin belajar lebih ikhlas. Dan kini jemariku mulai mengetik di atas layar ponsel, kuluapkan semua perasaanku di sana. Rasanya beribu kenangan terukir di sana. Sebuah pesan yang dulunya berbalas, kini pesan tersebut tak kunjung dibaca oleh pemiliknya. Dimanakah kamu sekarang? Apakah kamu benar-benar pergi secepat itu tanpa berpamitan padaku?

Dalam alunan rindu yang terus menggema di setiap hariku.
Izinkan aku mengirimkan pesan terakhir kalinya untukmu.
Sebab kutahu bahwa sampai kapanpun pesan ini tak akan berbalas.
Aku tak sanggup membendungnya seorang diri.
Di sinilah aku berakhir dalam senduku.
Seseorang yang memiliki senyuman yang begitu meyakinkanku,
bahwa bersamanya duniaku akan baik-baik saja.
Kini pemilik senyuman itu pergi tanpa ada kata pamit,
yang telah membawamu ke tempat terindah di sana.
Dan aku masih di sini, selalu di sini merindukanmu.
Sekuat tenaga aku memaksakan ingin bertemu denganmu
adalah sebuah ketidakmungkinan yang selalu kusemogakan.
Sebuah harapan perlawanan pada takdir,
teruntuk sosok yang selalu ku rindukan,
Gara Adijaya Winata.

Categories: CerpenSastra

2 Comments

Dafid · 03/08/2022 at 7:32 pm

Wah keren, sangat indah gaya bahasanya, tapi aku menemukan satu kata mungkin itu kurang ketikan. Keberangkat seharusnya keberangkatan… semangat ya
Salam penikmat sastra: santri pengelana

    Farhan · 25/02/2023 at 11:50 am

    Terimakasih banyak telah membaca dan mengunjungi website Saung Gagasan TC kak.
    Kami akan terus meningkatkan kualitas kami lagi agar dapat dinikmati dengan baik.

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *