
القرآن حمال أوجه
Begitulah guru kami, Syaikh Dr. Yusri Jabr Al-Hasani berkata di tengah menjelaskan materi ilmu Al-Qur’an kepada kami.
Dalam menyelami isi kandungan kitab suci ini, banyak sekali cabang ilmu yang harus kita pahami sebagai tangga untuk sampai kepada pemahaman yang tepat, di antaranya adalah terkait majaz ( المجاز ).
Bahasa Arab memiliki dua tipe penggunaan kata ataupun kalimat, ada yang berupa hakikat ( الحقيقة ) yang didefinisikan sebagai :
( اللفظ المستعمل فيما وضع له ).
“Kata yang digunakan pada makna asalnya” contohnya رأيت أسدا في الغابة (aku melihat singa di hutan).
Ada pula yang berupa majaz ( المجاز ), definisi dari majaz adalah :
( اللفظ المستعمل في غير ما وضع له لعلاقة، مع قرينة مانعة من إرادة المعنى الحقيقي ).
“Kata yang digunakan pada makna yang bukan asalnya karena adanya korelasi, serta adanya konteks yang mencegah digunakannya makna asal pada kata tersebut.”
Sebagai contoh, pada kalimat رأيت أسدا في المعركة (aku melihat seorang pemberani di medan perang). Perhatikan kata ( أسد ) yang asal maknanya singa menjadi seorang pemberani?
Melalui definisi di atas, dijelaskan bahwa terhalangnya penggunaan makna asal dikarenakan adanya korelasi beserta dengan konteks yang mencegahnya, maka bisa kita fahami bahwa di medan perang tak jarang kita menemukan sosok pemberani yang tak kenal takut untuk melawan musuh-musuhnya, sehingga kita menjuluki orang tersebut dengan singa karena adanya kesamaan sifat, yaitu “berani”.
Lalu apa faedah dari penggunaan majaz di atas?
Di antaranya adalah menghadirkan bayangan atas keberanian orang tersebut, jika kita menggambarkan sosok tersebut sebagai singa, seakan-akan kita menyandangkan keberanian yang tak biasa yang ada pada sosok tersebut.
***
Al-Qur’an sebagai Kitab suci yang berbahasa Arab tentunya mengandung banyak penggunaan Majaz di dalamnya, salah satunya sebagaimana Firman Allah Ta’ala pada Surat al-Isra’:29 yang berbunyi :
ولا تجعل يدك مغلولة إلى عنقك ولا تبسطها كل البسط فتقعد ملوما محسورا
“Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan (pula) engkau terlalu mengulurkannya (sangat pemurah) nanti kamu menjadi tercela dan menyesal.”

Dr. KH. Muhammad Afifudin Dimyathi dalam kitabnya “الشامل في بلاغة القرآن” menjelaskan :
في قوله تعالى [ولا تجعل يدك مغلولة إلى عنقك ولا تبسطها كل البسط] استعارة تمثيلية، حيث مثل البخيل بالذي حبس يده عن الإعطاء وشدت إلى عنقه بحيث لا يقدر على مدها وشبه الإسراف ببسط الكف بحيث لا تحفظ شيأ
“Bahwasanya pada ayat ini terdapat Isti’arah tamtsiliyyah, yang mengumpamakan sifat pelit dengan seseorang yang menahan tangannya dari memberi dan mengikatnya ke leher, sehingga dia tidak bisa mengulurkan tangannya, juga mengumpamakan sifat boros dengan membentangkan telapak tangannya sehingga tidak mampu menjaga apapun.”
Dalam kitab “البلاغة الواضحة”, Isti’arah tamtsiliyyah merupakan :
“تركيب استعمل في غير ما وضع له لعلاقة المشابهة مع قرينة مانعة من إرادة معناه الأصلي.”
“Susunan kata yang digunakan bukan pada asal maknanya karena adanya korelasi berupa sebuah kemiripan, beserta konteks yang mencegah penggunaan makna asal tersebut.” Dengan definisi ini,maka menjadi jelas maksud penafsiran ayat di atas.
Hikmah yang dapat dipetik dari ayat ini, bisa kita kutip lewat perkataan Imam Al-Alusy dalam kitabnya “روح المعاني” :
تمثيلان لمنع الشحيح وإسراف المبذر زجرا لهما عنهما وحملا على ما بينهما من الاقتصاد والتوسط بين الإفراط والتفريط ،وذلك هو الجود الممدوح فخير الأمور أوساطها
“Ayat ini merupakan dua perumpamaan untuk pelitnya orang kikir dan berlebihannya orang yang mubazir sebagai bentuk larangan terhadap dua golongan tersebut, dan bertujuan untuk membawa keduanya pada kesederhanaan dan tengah-tengah antara berlebihan dan sifat pelit. Dan demikian merupakan kedermawanan yang terpuji, maka sebaik-baik perkara adalah tengah-tengahnya (tidak berlebihan juga tidak kekurangan).”
Maka dengan melihat penjelasan di atas, hanya dengan mengurai satu ayat saja kita bisa merasakan keindahan dan keagungan Al-Qur’an, dan meyakini bahwa didalam al-Qur’an memang ada penggunaan majaz, sehingga kita tidak salah memahami maksud dari isi kandungan al-Qur’an. Semoga Allah Ta’ala senantiasa meridlai langkah kita dalam memahami firman dan kalam-Nya.
7 Comments
Rini Suharto Ismail · 16/08/2022 at 12:56 am
Semoga semakin Amanah ilmu dan perilaku sesuai Al Qur’an dan Hadist ya nak
Durrotun Nashihah · 16/08/2022 at 1:21 am
Masya Allah… Ilmu baru untuk saya..
Smg makin bermanfaat ilmunya untuk penulis
Nita · 16/08/2022 at 1:37 am
Masya Alloh, trimakasih ilmunya untuk menambah pengetahuan saya.
Smoga penulis selalu sukses dan berkarya menyebarkan ilmu agama
Dian · 16/08/2022 at 1:49 am
Subhanallah, bagus sekali tulisannya.
Semoga ilmunya bermanfaat utk org banyak ya Nak
Dian · 16/08/2022 at 1:51 am
Subhanallah, bagus sekali tulisannya.
Semoga ilmunya bermanfaat utk org banyak ya Nak dan sukses kedepannya, aamiiiin
Dian · 16/08/2022 at 1:53 am
Terima kasih ilmu yg diberikan.
Semoga penulis bisa terus menyebarkan ilmu yg bermanfaat untuk orang banyak dan sukses kedepannya
Dian Achdianawati · 16/08/2022 at 1:58 am
Semoga penulis dilancarkan kuliahnya dan menjadi orang yg berguna buat orang banyak, aaamiiin