
Secara bahasa, Qiradh merupakan bentukan dari lafadz al-Qardhu yang berarti “memutus”. Secara istilah, Qiradh adalah penyerahan harta seorang pemilik modal (Mâlik atau rabbul mâl) kepada pengelola modal (‘Âmil) dengan tujuan agar dia mengelola harta tersebut, dan labanya dibagi antara keduanya. Akad Qiradh merupakan kolaborasi dari Syirkah Amwal dan Syirkah A’mal. Akad Qiradh juga disebut sebagai akad Mudharabah atau akad Wakalah bil Ju’li.
Rukun Qiradh adalah sebagai berikut : 1. Pemilik modal (Mâlik atau rabbul mâl) 2. Pengelola modal (‘Âmil) 3. Modal (Mâl) 4. Objek atau bentuk pengelolaan (‘Amal) 5. Keuntungan atau Laba 6. Sighat akad (kesepakatan).
Sedangkan syarat akad Qiradh adalah sebagai berikut :
- Harta atau modal yang akan dikelola harus berupa mata uang, yang terbuat dari emas maupun perak, atau uang kertas sebagai alat transaksi yang sah untuk zaman ini. Tidak diperbolehkan menyerahkan modal berupa logam mentah, perhiasan (dari emas atau perak), Fulus (mata uang kuno dari perunggu), uang palsu, dan tukar menukan barang (barter).
- Seorang Mâlik harus memberi izin pengelolaan modal secara penuh kepada ‘Âmil. Pengelola modal juga diizinkan untuk membeli barang-barang yang tersedia atau umum adanya. Mâlik tidak boleh membatasi atau mempersempit ruang gerak ‘Âmil dalam pengelolaannya. Seperti ucapan Mâlik: “Jangan membeli kecuali gandum putih”.
Akad Qiradh tidak sah apabila disyaratkan pembelian pada barang-barang langka, seperti kuda zebra.
- Seorang Malik harus menentukan pembagian keuntungan yang pasti bagi ‘Âmil, seperti sepertiga atau setengah dari keuntungan. Apabila Malik hanya menyatakan bahwa dalam keuntungan atau laba nanti terdapat bagian dia dan ‘Âmil (dalam hal tersebut, presentasi keuntungan tidak ditentukan secara pasti), maka akad Qiradh tetap sah dengan ketentuan keuntungannya dibagi dua, alias 50:50.
- Akad Qiradh tidak dibatasi oleh waktu tertentu, seperti ucapan Malik: “Aku akad Qiradh denganmu dalam jangka waktu satu tahun”. Tidak boleh pula akad Qiradh digantungkan dengan suatu syarat, seperti ucapan : “Apabila datang awal bulan depan, aku berakad denganmu”.

Akad Qiradh pada dasarnya merupakan amanah (saling percaya), maka seorang ‘Âmil tidak dituntut ganti rugi apabila terjadi kerusakan pada harta, kecuali disebabkan kecerobohan atau perbuatan sembrono dari ‘Âmil.
Akad Qiradh termasuk akad Jaiz antara kedua belah pihak, maka setiap salah seorang dari mereka boleh membatalkannya.
Tanya Jawab
1. Apa perbedaan antara Qiradh dengan Mudharabah dalam Syirkah?
Qiradh nama lainnya adalah Mudharabah, yang mana termasuk bagian dari Syirkah. Berdasarkan penjelasan :
و تسمية المضاربة بهذا الاسم في لغة اهل العراق , اما اهل الحجاز فيسمون عقد المضاربة قراضا او مقارضة .
– فقه المعاملات المقارن المقرر على الفرقة الثانية ,ص.416 , شعبة الشريعة الاسلامية جامعة الازهر –
و القراض و المقارضة لغة اهل الحجاز. و المضاربة لغة اهل العراق .
– حاشية الشيخ ابراهيم البيجوري , ص. 40 , دار الكتب الاسلامية –
2. Di saat bagi hasil Qiradh apakah boleh Mâlik mengambil keuntungan Âmil untuk dijadikan modal dalam meneruskan usaha atau bisnisnya?
Pada dasarnya, hasil atau keuntungan dari pengelolaan akad Qiradh atau Syirkah Mudharabah harus dibagi kepada dua belah pihak. Namun, ketika Âmil menyetujui agar hasil tersebut dijadikan modal baru, maka Qiradh-nya menjadi Fasakh, dikarenakan larangan terjadinya dua akad dalam satu transaksi. Maka konsekuensinya, akad Qiradh tersebut beralih menjadi Syirkah Amwal.
الشركة التي تعقد بين اثنين او اكثر بغرض المتاجرة على ان يشترك كل منهم بمقدار معين في راس المال, و ما يحصل من ربح او وضيعة يقسم بينهم على حسب رؤوس اموالهم .
– فقه المعاملات المقارن المقرر على الفرقة الثانية ,ص.365 , شعبة الشريعة الاسلامية جامعة الازهر –
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : تهى رسول الله صلى الله عليه و سلم عن بيعتين في بيعة .
– سنن الترمذي, حديث 1276, ص. 333, جمعية المكنز الاسلامية –
3. Jika usahanya gagal, maka siapa yang menanggung kerugian?
Jika memang kerugian bukan berasal dari kesalahan Âmil, maka yang menanggung kerugian adalah pemilik modal. Berdasaran penjelasan :
فما يحدث من نقص في رأس المال من غير تقصير او تعدي من العامل, فانه يكون على صاحب المال .
– فقه المعاملات المقارن المقرر على الفرقة الثانية ,ص.424 , شعبة الشريعة الاسلامية جامعة الازهر –
و أما الخسارة : فهي على رب المال وحده , و يكغي العامل أنه خسر جهده و عمله .
-المعاملة المالية المعاصرة (بحوث و فتاوى و حلول) ص.106و الشيخ وهبة الزحيلي
4. Apa yang dimaksud dengan lafadz الفلوس, dan apakah itu dapat digunakan sebagai modal dalam akad Qiradh?
Di zaman dahulu, istilah الفلوس digunakan untuk mata uang bangsa Yunani. Namun, sekarang berganti menjadi istilah yang digunakan untuk alat tukar yang sah disetiap negara. Ketika fulus yang dimaksud adalah naqd ahli balad (alat tukar yang sah menurut daerah tersebut), maka boleh digunakan sebagai modal dalam Qiradh. Berdasaran penjelasan:
الفلوس : الفلس لفظ مشتق من اللفظة اليونانية[1]و كان يرمز لقيمته بالحرف اليوناني على أحد وجهي الفلس, و أما الوجه الثاتي فكان يحمل صورة الامبراطور البيزنطي المعاصر .
و من جعلها من النقد اراد كونها يتعامل بها كالنقد كقولهم : نقد البلد ما يتعامل به فيها كالودع والخرز و نحوهما .
– حاشية الشيخ ابراهيم البيجوري , ص. 42 , دار الكتب الاسلامية –
(و عروض) و فلوس, و قيل : يجوز على المغشوش الرائج , و قيل : يجوز على الفلوس .
– كنز الراغبين الشيخ جلال الدين المحلي, ص.54 , دار الامام الشافعي –
Oleh Aris Fathurrahman / Mochamad Akmal Habibi
Divisi Keilmuan Tebuireng Center
0 Comments