
Senin, 10 Oktober 2022, Tebuireng Center Kairo kembali menggemakan lantunan sholawat Nabi. Agenda rutin kali ini bertepatan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad saw. dan dilaksanakan dengan pembacaan Maulid Simtudduror karya Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi. Acara berlangsung di sekretariat Tebuireng Center, Bawwabat II, Hayy Asyir, Kairo. Acara berlangsung dengan lancar, penuh khidmat, dan menghidupkan atmosfer kerinduan kepada Baginda Rosul melalui pembacaan sholawat.
Dalam haflah maulid Nabi saw. kali ini, senior Tebuireng Center yang sedang menjalani program doktoralnya di Universitas al-Azhar, KH Faiz Husaini, Lc, MA turut hadir sekaligus memberikan mau’idhah hasanah. Beliau merefleksikan nilai-nilai yang terkandung dalam kepribadian Nabi, meneladani jalan kehidupan beliau sebagai bekal untuk menghadirkan sosok Nabi dalam berbagai lini kehidupan, khususnya kehidupan para mahasiswa di Mesir.
“Ketika kita melihat dan mempelajari apa yang dirasakan Rosul saw. dalam berdakwah selama 23 tahun di Mekkah dan Madinah, disitu beliau tidak hanya merasakan kebahagiaan, namun berbagai kesedihan dan kesabaran” ungkap KH Faiz mengenai teladan Rosul.
Dalam berdakwah, Rosul saw. menerima berbagai rasa sakit, ujian, dan cobaan. Berbagai upaya telah digaungkan oleh orang-orang yang tidak menerima dakwah beliau, namun beliau senantiasa bersabar dan berdoa supaya Allah memberi petunjuk kepada mereka. Hal ini menujukkan sifat kasih sayang dan perhatian yang besar Nabi Muhammad saw. kepada kaumnya. Beliau tidak menginginkan kaumnya tertimpa azab sebagaimana yang terjadi pada umat-umat terdahulu.
KH Faiz menerangkan, bahwasanya Allah swt. menurunkan ayat yang di antaranya dalam rangka mendukung, menguatkan, dan memotivasi Nabi saw. untuk selalu bersabar. Hal ini merupakan suatu pembelajaran bagi umatnya untuk selalu bersabar dalam menjalani kehidupan.
“Belajar sabar itu lebih berat daripada belajar bahagia”
“Berbagai kebahagiaan dan kesuksesan memang suatu hal yang dibutuhkan kesabaran dalam menjalaninya. Tidak ada kesuksesan di dunia ini yang didapatkan tanpa melalui sebuah proses dan kesabaran”

Pembelajaran kesabaran tersebut -menurut beliau, diaplikasikan dalam proses pendidikan kita di Mesir, dalam kondisi jauh dari orang tua dan keluarga, kondisi finansial yang serba pas-pasan dan persoalan-persoalan yang terus menghampiri. Bahwasanya hal tersebut merupakan proses pendewasaan kita sebelum kembali ke tanah air dan menjalankan amanat sebagai pemandu spiritualitas masyarakat.
“Karena kesabaran membutuhkan pembelajaran, maka lika-liku kehidupan kita merupakan Madrasah Sabar” pungkas Pak Faiz, sapaan akrab beliau.
Mengenai identitas kita sebagai mahasiswa al-Azhar, Pak Faiz merefleksikan legalitas Nabi dan Rosul yang diberikan langsung oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw. Nabi tidak hanya memiliki substansi sebagai manusia yang berkepribadian luhur, namun beliau juga seorang Nabi dan Rosul yang dipilih langsung oleh Allah untuk mengemban amanah Islam rohmatan lil ‘alamin. Beliau berpesan bahwasanya di dalam pendidikan, kita perlu menyeimbangkan antara substansi dan formalitas. Pendidikan di era ini memang diperlukan semacam ijazah formal.
Walaupun begitu, kita perlu menghidupkan nilai-nilai seorang penuntut ilmu sejati yang berkepribadian luhur. Di samping itu, kita ditekankan untuk meningkatkan semangat dalam memenuhi kewajiban-kewajiban kita sebagai mahasiswa al-Azhar, berupaya memaksimalkan diskursus keilmuan di dalam maupun di luar perkuliahan dalam rangka merealisasikan nilai-nilai wasathiyyah di tengah-tengah masyarakat. Kemudian acara di tutup dengan doa yang dipimpin ustadz Ilmanuddin Abdul Haq, dan dilanjutkan dengan ramah-tamah.
0 Comments