
Tawaqquf adalah kata serapan masisir yang diambil dari Bahasa Arab, kata tawaqquf sendiri berarti berhenti atau bisa kita bilang dengan vakum. Kerap kali dan bahkan tak sedikit masisir yang melontarkan kata ini kepada diri sendiri dan orang lain, saat menjelang ujian Al Azhar tiba. Menariknya tawaqquf ini mempunyai jangka waktu tertentu dan sudah menjadi adat yang bahkan diketok palu oleh Presiden PPMI (Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia) Mesir, bahwasanya jika sudah memasuki masa-masa ujian, maka kita juga telah memasuki masa tawaqquf.
Berawal dari keseharian masisir yang mempunyai kesibukan berbeda-beda atau prioritas lain disamping belajar, seperti sibuk berorganisasi atau bekerja sesuai profesi ataupun hobi masing-masing seperti cukur rambut, jual beli HP, buka rumah makan Indonesia, jual pulsa, kurir makanan, masisir yang buka rumah binaan atau kursus bimbel, dan profesi yang lain. Sehingga jika dipikir-pikir sekilas, kita hidup di Negara orang yang mana kesannya seperti hidup di kampung halaman. Namun semua hal itu seakan sulit dicari kembali saat masisir memasuki masa tawaqquf. Sukar untuk mencari hal spesifik atas apa yang kita butuhkan di masa itu, beli pulsa harus keluar rumah dan beli langsung ke orang Mesir, sukar mencari makanan Indonesia saat warung tutup, juragan warung juga kesulitan mencari pegawai baru, dan jangan harap saat kita membuat acara di masa tawaqquf, semua peserta atau tamu undangan akan datang.
Masa tawaqquf biasanya hanya berlangsung selama 2 bulan dan dalam satu tahun terdapat 2 ujian Al Azhar, yaitu ujian musim dingin (semester ganjil) dan ujian musim panas (semester genap). Keduanya memiliki tantangan yang berbeda, baik di masa tawaqquf ataupun saat ujian Al Azhar berlangsung, apalagi saat ekstremnya cuaca dan naik turunnya suhu sekitar yang tak menentu, tentu hal itu berdampak dan mengganggu proses belajar masisir. Jangankan membuat acara, mengajak teman keluar atau belajar bareng saja belum tentu mereka mengiyakan, mengurungkan niatnya entah karena melihat cuaca yang ekstrem atau karena malas yang berkepanjangan. Beranjak dari kasur dan membuka selimut di musim dingin untuk memulai aktivitas sedari pagi, adalah suatu tantangan bagi sebagian masisir yang kagok atas suhu ekstrem ini, apalagi mempunyai tuntutan untuk menuntaskan buku mata kuliah. Belum lagi saat ujian berlangsung, demi melawan dingin, ada sebagian masisir yang sambil membawa teh panas saat ujian. Tak jauh beda dengan musim panas, kalian bisa bayangkan sendiri suhu di atas 41 derajat sampai 46 derajat membuat kita belajar sambil telanjang kipasan.

Terlepas dari tantangan atau suka dan duka dari ujian musim dingin dan ujian musim panas, sudah sepatutnya memang kita mempersiapkan diri kita dengan sebaik mungkin. Saking tidak bisa diremehkannya ujian Al Azhar, Syaikh Fauzi Konate – guru kami asal Pantai Gading – dalam fanspage beliau ini berkata:
القراءة في غير المقررات بعد إعلان جدول الامحانات من الكسل الخفي
Artinya, “Membaca selain muqorror (buku mata kuliah) setelah keluarnya jadwal ujian adalah termasuk dari kategori malas ringan.” Bisa bayangkan bahwa seketat inilah nasehat para guru Al Azhar terhadap murid-muridnya untuk mempersiapkan ujian dengan baik, bahkan jangan sampai terganggu oleh bacaan yang lain, apalagi kita malah bermain dan hanya tidur saja. Sungguh naif masisir yang tidak tahu dan masih bertanya apa yang harus dilakukan saat masa tawaqquf ini, atau malah memanfaatkan masa tawaqquf untuk melakukan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan ujian Al Azhar.
Pada intinya, dengan adanya masa tawaqquf atau vakumnya seluruh kegiatan di masa ini, semoga membuat kita sadar dan mempersiapkan ujian Al Azhar dengan sebaik mungkin. Memang benar ilmu seseorang tidak bisa kita patok hanya dari kertas ujian, namun minimal dari kesuksesan ujianlah kita tahu sampai mana kualitas diri kita, dan kita menjadi tahu apakah kita pantas atau tidak menyandang atau melabeli diri kita sebagai mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo Mesir.
Komunitas Kepenulisan dan Jurnalistik Tebuireng Center Cairo
2 Comments
Taufiq · 07/01/2023 at 8:47 am
كسل خفي maksudnya bukannya sebagai bentuk pengalihan dari males baca muqoror ya, males yg tersembunyi mohon pencerahannya hehe
MAULANA THALIA SALSABILA · 25/01/2023 at 7:33 am
Iya mas, begitu mas lebihnya, tau jadwal ujian udah keluar eh malah baca novel semisal, itu termasuk malas tak nampak. Nah Dalam hal ini, penulis ingin menyampaikan dari sisi bahwa ujian jangan dianggap sebelah mata apalagi sampai diremehkan, gimana tidak? Baca selain muqoror saja udah dibilang malas (khofi) apalagi gak baca muqoror, atau yang laen yang intinya gak ada hubungan ama ujian azhar.