
Menurut Arnold Toynbee dalam bukunya “A Study of History”, ketika peradaban telah mencapai puncaknya, peradaban akan cenderung kehilangan fleksibilitasnya. Kemudian runtuh, lalu digantikan dengan peradaban yang baru. Namun, setiap pergantian zaman akan selalu muncul seorang yang berperan secara kreatif, dimana mereka adalah orang-orang minoritas yang memiliki kesadaran tinggi, keistimewaan, dan kreatifitas. Mereka adalah minoritas yang berfikir secara berbeda, secara kreatif. Minoritas ini membawa peradaban dari nilai yang lama menuju nilai yang baru, dari tatanan lama menuju tatanan baru. Dan akhirnya para minoritas inilah yang berhasil membawa peradaban lama menuju peradaban baru yang lebih baik.
Melansir dari wikipedia, minoritas merupakan kelompok sosial yang tak menyusun populasi total pada suatu kelompok masyarakat tertentu. Keanggotaan kelompok minoritas biasanya didasarkan pada perbedaan karakteristik atau aktivitas yang dapat diamati. Terminologi “Minoritas” juga sering digambarkan sebagai “berbeda dari kebanyakan” atau “yang lain”. Istilah tersebut muncul karena adanya stigmatisasi mayoritas terhadap “kelompok lain”. Perbedaan ini didasarkan pada pandangan positif terhadap karakteristik minoritas. Mereka memiliki Self esteem dan self image yang positif, kemampuan daya cipta, sehingga kehadirannya dibutuhkan oleh masyarakat.
Minoritas kreatif merupakan sekelompok manusia atau individu yang memiliki self determining (kemampuan untuk menentukan apa yang hendak dilakukan secara tepat dan dengan semangat yang kuat). Bukan hanya memiliki self determining, mereka juga mempunyai kreatifitas untuk menanggapi lingkungan alamiah dan sosial. Artinya dalam segi jumlah, jumlahnya memang sedikit. Namun, mereka berperan vital sebagai panutan atau pemandu masyarakat kebanyakan dalam menanggapi tantangan zaman.1
Minoritas kreatif juga disebut sebagai kelompok satu persen yang berbeda dengan kelompok mayoritas, baik dalam pola pikir ataupun tindakan maupun visi yang hendak diwujudkan. Mereka tidak serta-merta mengikuti arus atau gaya hidup mayoritas, tetapi mereka berani berbeda dalam memegang prinsip dan nilai hidup. Mereka juga disebut sebagai individu yang tercerahkan, mengenali makna tentang diri secara mendalam dan terbuka terhadap ilmu pengetahuan. Kiprah atau peran mereka di masa mendatang terlihat melalui aktivitas-aktivitasnya diluar kebiasaan sejak dini. Diantara karakteristik yang dimiliki minoritas kreatif adalah adanya kekuatan dalam diri dan rasa optimisme yang tinggi.
Kemampuan seseorang dalam menanggapi rintangan-rintangan di masa pertumbuhannya, mendorong seseorang untuk bertahan hidup dengan segenap kemampuan yang dimilikinya, meskipun tanpa bergantung pada orang lain. Rintangan yang menghadang dan persoalan yang dihadapi bukanlah suatu tembok penghalang, namun laksana pisau yang semakin tajam setiap diasah. Secara alamiah, pengalaman mereka menjadi pembelajaran dalam membentuk pribadi dan prinsip hidup mereka untuk harapan kehidupan yang cerah di masa mendatang.
Jika mayoritas seseorang hidup dalam kesenangan yang justru tidak meningkatkan kualitas hidupnya, minoritas kreatif rela mengorbankan waktu, fikiran, dan tenaganya untuk hal-hal yang bernilai bagi dirinya, walaupun tidak banyak disukai menurut pandangan mayoritas. Minoritas kreatif tidak tenggelam dalam hingar bingar dunia, tetapi banyak menghabiskan waktunya untuk merenung dan berfikir mendalam tentang dirinya, masyarakat disekitarnya, serta arah dan tujuan kehidupannya.
Yang membedakan minoritas kreatif dengan mayoritas ialah subjektivitas atau pandangan masyarakat terhadapnya. Mereka memiliki citra diri yang tinggi, tingkah laku yang terpuji, dan menjadi sosok inspiratif, sehingga memperoleh kepercayaan tinggi dari masyarakat. Dengan hal ini, mereka memiliki kepekaan yang mendalam tentang kondisi dan tujuan kehidupan masyarakatnya, menyiapkan diri untuk membangun visi dengan rasa optimis.
Dalam konteks lahirnya peradaban, Arnold Toynbee menyebutkan:
“Sejumlah kecil orang yang memiliki energi lebih besar dari masyarakatnya yang letih. Memiliki kejernihan di tengah lautan kekeruhan pikiran di sekitarnya, memiliki semangat jauh lebih besar dari masyarakatnya yang putus asa. Memelihara dan terus menyebarluaskan optimisme akan hari esok yang lebih baik di tengah luapan pesimisme di sekitar mereka. Dan peradaban besar, tidak dibangun oleh orang banyak, tetapi oleh orang sedikit semacam itu…”
(Arnold Toynbee: A Study of History )
Minoritas kreatif muncul berkaitan dengan tumbuh kembangnya suatu peradaban. Dalam konteks peradaban secara umum, peradaban tercipta bukan karena menempuh jalan yang terbuka lebar dan mulus, melainkan semata-mata masyarakat sukses mengatasi tantangan dan rintangan. Mula-mula lingkungan bersifat alamiah (fisik), kemudian sosial. Lantas, masyarakat menentukan cara merespon tantangan lingkungan alamiah dan sosial. Disini, minoritas kreatif berperan untuk berinteraksi melalui kepercayaan masyarakat terhadapnya. Demikian seterusnya dalam menanggapi tantangan-tantangan baru. Dari proses inilah, muncul peradaban.2
Masih menurut Toynbee, peradaban cenderung menempuh dan melewati empat fase: masa pertumbuhan, masa sukar, sebuah negeri bersama, dan peralihan atau kehancuran. Teori Toynbee ini senada dengan hukum siklus. Artinya ada kelahiran, pertumbuhan, kematian, kemudian disusul dengan kelahiran lagi, dan seterusnya. Faktor penting dalam peradaban pada ‘masa pertumbuhan’ adalah apa yang disebut sebagai ‘tantangan dan jawaban’. Singkatnya, jika masyarakat ingin tumbuh menjadi sebuah peradaban, ia harus ‘tertantang’.3

Pada fase pertumbuhan peradaban, tanggapan sering berhasil karena minoritas kreatif merambah upaya baru dan -dengan cara begitu- menghancurkan tradisi yang dianggap sudah kolot bahkan primitif yang apabila dibiarkan akan membawa pada kemusnahan.4 Artinya peradaban mulai berkembang ketika minoritas kreatif menemukan suatu tantangan kemudian merespon dan menemukan solusi dan inovasi.5
Ketika kebanyakan umat manusia cenderung terperosok ke dalam cara-cara hidup lama yang malah akan membuat peradabannya hancur, maka tugas minoritas kreatif bukanlah semata-mata menciptakan bentuk-bentuk dan proses-proses sosial baru, akan tetapi juga menciptakan cara-cara untuk membawa secara bersama-sama ke arah kemajuan.6
Michael Hart (1932), dalam bukunyaThe 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History menyebutkan, bahwa Nabi Muhammad SAW menduduki peringkat pertama sebagai orang yang berpengaruh dalam sejarah. Beliau satu-satunya manusia yang sukses membawa kemajuan peradaban dunia, baik di tingkat agama maupun keduniaan. Kesuksesan beliau dalam mendakwahkan Islam menjadikan beliau pemimpin politik, militer, dan juga pemimpin agama. Sehingga pengaruh beliau bertambah besar sejak 13 abad dari kewafatan Beliau.7
Sebagian besar orang yang berpengaruh di dunia terlahir dan tumbuh di lingkungan yang menjadi pusat peradaban, dalam masyarakat yang maju baik di bidang politik maupun intelektual. Terkecuali Nabi Muhammad SAW. Beliau lahir pada tahun 571 M di Makkah, sebelah selatan Jazirah Arab, di lingkungan yang jauh dari pusat peradaban.
Jazirah Arab bukan hanya dinilai jahiliyah (bodoh), tak terlalu penting, dan tak berpengaruh di dunia, tetapi juga sangat terisolasi dan berada di pojok kultural yang mematikan. Namun Nabi Muhammad mengubahnya, menyita perhatian masyarakat jazirah Arab, dan bahkan dunia.8
Masyarakat Arab Badwi terkenal akan keganasannya dalam berperang, tetapi mereka tidak memiliki pengaruh dan kemampuan untuk menyatukan bangsa arab, baik di utara (tanah yang subur) maupun di selatan. Tetapi-pertama kali dalam sejarah, Nabi Muhammad mampu menyatukan bangsa arab di bawah panji-panji Islam. Dengan kekuatan Iman, kaum muslimin mampu menyebarluaskan Islam hingga mampu menaklukkan bangsa Romawi dan Persia di utara.9
Peran beliau sebagai penerima wahyu dan mendakwahkannya kepada masyarakat adalah proses atas revolusi peradaban yang terjadi. Peran minoritas kreatif memang selalu tidak mudah, akan banyak tantangan yang dihadapi. Suri tauladan pada pribadi beliau dan kebijaksanaan dalam menyebarkan nilai-nilai spiritual, kemanusiaan dan kepercayaan – baik sebelum atau sesudah diutusnya beliau – cukup menjadikan diterimanya dakwah beliau untuk melaksanakan visi misinya dengan berpedoman pada Al-Qur’an.
Akhirnya, dalam konteks peradaban islam di dunia, atau setidaknya di Madinah dan Mekkah, dipastikan bahwa disana terdapat peran besar Nabi untuk mewujudkannya. Di tangannya, Wahyu tidak hanya diinternalisasi, melainkan juga disebarkan sehingga mempengaruhi keluarga, para sahabat, dan masyarakat. Dengannya, Umat Islam bukan memiliki kebudayaan yang lebih baik, tetapi juga mencetak peradaban yang luar biasa.10
1. Mi’roj Dodi Kurniawan. “Spiritualitas, Minoritas Kreatif, dan Peradaban Islam Klasik (5): Minoritas Kreatif” dalam situs GANA ISLAMIKA , 29 September 2018.
2. Ibid
3. Arnold. J Toynbee. 1957. “A Study of History”, vol.9, p. 373,Oxford University Press.
4. Supratikno Rahardjo. 2002. Peradaban Jawa: Dinamika Pranata Politik, Ekonomi, dan Agama Jawa Kuno. Jakarta: Komunitas Bambu. Hlm 5-12
5. http://en.wikipedia.org/wiki/A_Study_of_History
6. Loc. Cit.
7. Markaz Syeikh Zayed “Silsilah al-Azhar al-Syarif: Li at-Ta’lim al-Lughah al-‘Arabiyyah li ghairi an-Nathiqinabiha”, Juz. 5, p. 40, The World Association for al-Azhar Graduates, Kairo, 2018
8. Mi’roj Dodi Kurniawan. “Spiritualitas, Minoritas Kreatif, dan Peradaban Islam Klasik (1): Jazirah Arab” dalam situs GANA ISLAMIKA , 21 September 2018
9. Loc. Cit. p.41
10. Mi’roj Dodi Kurniawan. “Spiritualitas, Minoritas Kreatif, dan Peradaban Islam Klasik (3): Nabi Muhammad” dalam situs GANA ISLAMIKA , 24 September 2018
0 Comments