
Kebiasaan adalah hal-hal kecil, kegiatan sepele yang dilakukan secara terus menerus, baik dalam keadaan sadar maupun di alam bawah sadar. Maksud dari alam bawah sadar ialah kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan tanpa memiliki tujuan jelas. Semisal kebiasaan teman sekamar yang jika sedang berfikir keras, ia akan duduk sembari menopang dagu dengan tangan kirinya, atau kebiasaan seorang ibu yang ketika sedang menggoreng selalu meletakkan tangan kirinya di punggung bagian bawah.
Dalam bahasa lain, jika terkadang seseorang melakukan suatu hal yang tanpa ia sadari, sesungguhnya ia telah melakukan hal tersebut berkali-kali. Seseorang merasa ingin tidur pada pukul sebelas malam setiap harinya. Ternyata tanpa ia sadari, di hari-hari sebelumnya, ia telah melakukan kebiasaan tidur pada pukul yang sama. Oleh karena itu, ia memperoleh kebiasaan tidur pada pukul sebelas malam setiap harinya dan diawali dari ketidaksadaran saat memulai kebiasaan tersebut. Namun, kebiasaan jenis ini bukanlah soal yang akan kita bahas.
Banyak yang tidak menyadari bahwa Kebiasaan sangatlah erat kaitannya dengan pribadi manusia, karena hal tersebut pada akhirnya dapat mengelompokkan seseorang dalam kelompok sosial tertentu. Faktanya dalam bersosialisasi, seringkali kita mencari lingkaran dengan orang-orang yang satu frekuensi dan sesuai dengan apa yang biasanya kita lakukan. Contohnya, golongan orang yang memiliki kebiasaan untuk santai dan guyon dalam membicarakan sesuatu, akan merasa senang jika berada di suatu lingkungan yang mendukung kondisi tersebut. Ia akan merasa mendapat suntikan energi positif dan dukungan dari orang-orang di sekitarnya maupun lingkungannya. Sekalinya salah masuk circle, mati gaya dan tidak nyaman adalah hasil akhir yang pasti terjadi.
Sementara itu, membuat kebiasaan secara sengaja adalah upaya membangun kebiasaan diri secara sadar dalam rangka mengupayakan potensi terbaik dalam diri kita. Seringkali kita merasa bergairah terhadap perubahan, tetapi hanya ingin semua terjadi secara instan tanpa memperhatikan hal-hal yang mempengaruhi konsistensi dari kebiasaan tersebut.
Kebiasaan sehari-hari sudah sepatutnya menjadi hal yang kita sadari. Sedari bangun tidur, waktu belajar, waktu tidur dan waktu kencan lain-lain. Apa yang kita kehendaki, bagaimana cara memulainya, seyogyanya menjadi kesadaran penuh dalam diri. Seharusnya untuk memaksimalkan potensi diri, perlu adanya kebiasaan kecil yang mendukung hal yang ingin kita maksimalkan. Jika ingin menjadi koki, sudah seharusnya seseorang memiliki waktu khusus untuk mempelajari bumbu masakan, cara mengolahnya, alat-alat penunjang, jadwal rutin latihan memasak dan lain-lain.

Terkadang seseorang merasa menginginkan sesuatu, tetapi dalam upayanya ia seperti tidak mencerminkan hal yang ingin ia tuju. Dengan mengupayakan kebiasaan-kebiasaan kecil, seseorang terbiasa melakukan segala hal dengan perlahan, dan menikmati hasilnya untuk waktu yang panjang. Tentunya, seluruh kebiasaan tersebut tidak akan maksimal tanpa adanya kesungguhan untuk merutinkannya. Rutin untuk melakukan kebiasaan kecil menjadi sebuah tekad dan komitmen agar sebuah cita-cita dapat terimplementasikan dengan baik.
Seseorang yang terbiasa melakukan kebiasaan kecil dan rutin dalam kesehariannya, artinya ia telah selangkah lebih baik dalam mengenali dirinya. Mengapa demikian? Ketika seseorang mengulang sebuah aksi, lambat laun aksi-aksi tersebut akan terakumulasi dan membuat citra seseorang akan turut berubah. Semakin sering seseorang mengulang suatu hal, maka hal tersebut akan melekat pada dirinya dan akan membentuk sebuah identitas. Menurut James Clear dalam Atomic Habits-nya, mengatakan bahwa, “Proses membangun kebiasaan sesungguhnya sama dengan proses menjadi diri sendiri. Karena kebiasaan-kebiasaan kecil yang dibuat seseorang dapat membuat perbedaan yang bermakna dengan menyediakan bukti untuk identitas baru”. Artinya, kebiasaan dan identitas adalah dua muka dari satu keping uang yang sama.
Setelah memperoleh sebuah identitas, seseorang akan lebih percaya diri. Semakin ia mengetahui potensi yang dimilikinya, semakin ia percaya pada kemungkinan-kemungkinan yang akan ia capai. Capaian-capaian tersebut dapat berupa prestasi, diakui oleh sekitar, dan terutama berupa kepuasan diri. Seorang atlet tidak dibentuk dari pribadi yang malas berolahraga, penulis terkenal tidak lahir dari orang yang malas membaca. Dari pengenalan diri sendiri, akan membawa kepada identitas dan lingkungan sosial. Seorang atlet berprestasi tidak akan satu tempat dengan kaum rebahan, begitu juga penulis dan orang yang malas membaca, tidak mungkin ditemukan dalam waktu yang sama. Lalu, sudah sejauh mana kita mengenali diri sendiri lewat kebiasaan sehari-hari? Atau bagaimana jika kebiasan-kebiasan baik selama masa ujian kemarin kita lanjutkan saja? Mari kita coba!
0 Comments