Special Gf08ceaf04 1280 1024x682
Foto: Pixabay.com

Jazirah Arab, sebuah wilayah gurun pasir yang luas, yang didiami oleh suku arab badui, yang masyhur dengan sifat karomnya tanpa perhitungan, menjunjung tinggi persaudaraan dan suka menolong tamu. Begitupula keganasannya, sehingga fanatisme kesukuan dan perselisihan mampu menyulut api perang antar suku berkepanjangan dalam ke-jahiliyyah-an. Letak geografis Jazirah Arab cukup terisolasi, baik dari sisi daratan maupun lautan, jauh dari pusat peradaban, sekalipun memiliki posisi cukup penting sebagai kawasan penyangga dalam ajang perebutan kekuasaan politik Timur Tengah, yang didominasi oleh dua imperium besar: Kekaisaran Romawi Timur dan Persia.

Wajah peradaban bangsa Arab yang tergambar sebagaimana diatas, dihadapkan perubahan besar atas dasar visi yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Tepatnya sejak tahun 610 M sejak diutusnya Nabi di tengah-tengah masalah moral yang dihadapi manusia, ketimpangan sosial-ekonomi, kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang tidak beradab, dan praktik-praktik ke-jahaliah-an yang semakin meredupkan sinar peradaban. Dari sinilah awal mula pondasi peradaban Islam dibangun oleh Nabi atas visi spiritualitas yang dibawanya.

Nabi Muhammad adalah yang pertama-tama dan utama sebagai minoritas kreatif dalam Peradaban Islam. Bahkan sebelum menjadi Nabi, tanda-tanda sebagai sosok pengubah peradaban telah melekat kepadanya, yaitu dengan diberikannya gelar Al-Amiin dan As-Saadiq.1 Sejak kecil Beliau memiliki kepekaan yang mendalam dan alami atas masalah-masalah moral yang dihadapi manusia. Kepekaan ini kian tajam saat Beliau yatim piatu dalam usia yang masih sangat belia. Sifat-sifat mulia yang terkandung dalam pribadi Beliau, Inilah yang membenarkan status kenabian Beliau kelak.2

Secara spiritual, kepribadian Nabi saw. telah terdidik untuk menyiapkan Beliau sebagai pengemban risalah. Di dalam hati Beliau tertanam keistimewaan dan sifat-sifat khusus yang jarang dimiliki manusia lainnya. Sejak muda Beliau menjauhi kebiasaan-kebiasaan masyarakat Mekkah yang penuh dengan nafsu keduniawian. Beliau merasa senang dan tentram saat jauh dari kesenangan materi dan perselisihan dunia. Allah swt. Memeliharanya dengan kesempurnaan akhlak dan ketinggian budi pekerti di setiap jenjang kehidupannya.

Kepekaan Beliau atas keadaan moral masyarakat Quraisy kian berlangsung hingga umur 40 tahun. Beberapa waktu setelah menikahi Khadijah (w. 619 M), spiritulitas Beliau mendorong untuk ber’uzlah atau bertahannust di gua Hira’, sebuah gua di gunung yang tak jauh di sebelah utara Makkah. Selama masa tahannust, Beliau melakukan perenungan secara mendalam mengenai Tuhan Pencipta Alam dan makhluknya, terutama masalah-masalah kemasyarakatan seperti yang tercermin dalam praktik kehidupan masyarakat Quraisy. Pengalaman spiritual & batiniah Beliau mencapai puncaknya disaat kedatangan malaikat Jibril menyampaikan Wahyu pertama.

Sejak saat itu, Beliau mulai mendeklarasikan kenabian-nya, dan mulai menindaklanjuti misinya sebagai utusan Allah, menyeru manusia untuk bertauhid (mengesakan Allah swt.) dan memperbaiki moral manusia. Menegakkan pondasi-pondasi peradaban dan mewujudkan peran visi spiritualitas melalui tuntunan al-Qur’an.

Pasca diangkat menjadi Utusan Allah swt., Beliau mula-mula mendakwahkan Islam secara pribadi kepada keluarga dan orang-orang dekat nya, Istrinya (Khadijah) dan sepupunya (Ali bin Abi Thalib). Selain keduanya, secara umum, para pengikut awal Beliau berasal dari kalangan tertindas yang tidak memiliki posisi sosial dan politik yang berpengaruh, meski diantaranya ada pedagang kaya -seperti Abu Bakar al-Shiddiq.3

Namun, mayoritas yang memiliki pengaruh yang besar dimasyarakat menolak dakwahnya dan mengerahkan pengaruh mereka untuk membendungnya. Mereka memandang dakwah islam sebagai ancaman pada tradisi “bapak-bapak kami” yaitu politeisme4 dan gaya hidup yang tertanam pada diri mereka, yang dengannya mereka memperoleh keuntungan material dan keistimewaan sosial-ekonomi. Maka, saat Nabi menyampaikan dakwah secara terbuka kepada khalayak ramai, timbul oposisi aktif terhadap islam, dan para pengikut Nabi yang tak begitu kuat, mengalamai penindasan keji.5 Di lain sisi, dakwah beliau bagaikan sinar harapan di ujung lorong yang gelap bagi masyarakat yang tertindas pada waktu itu.

01fcf82761831fa101c9fa6320567040
Foto: Pinterest.com

Hijrahnya Beliau ke Madinah pada tahun 622 M, yang terletak 200 KM dari Makkah, menjadi titik perkembangan dan menguatnya dakwah Beliau. Berbeda halnya dengan di Makkah, di Madinah, Beliau memperoleh pengikut dan pertolongan yang besar dari Kaum Muhajirin dan Anshor, sehingga kekuatan Islam bertambah kuat dan pengaruh Beliau kian mendalam di hati manusia. Berbagai perlawanan yang digaungkan oleh kaum kafir untuk membendung dakwah Islam terus dihadang oleh Nabi bersama kaum muslimin. Hingga pada tahun 630 M, kaum muslimin berhasil menaklukkan kota Mekkah, dan Nabi menyaksikan segolongan besar umat manusia menerima Islam. Pada saat Nabi saw. wafat, Islam telah menyebar luas di Jazirah Arab. Pada saat inilah-dan pertama dalam sejarah, Beliau berhasil menyatukan Jazirah Arab di bawah panji Islam, dimana sebelumnya masyarakat Arab hidup terpecah belah dengan fanatisme kesukuan mereka.6

Tumbuhnya suatu peradaban tidak bisa dipungkiri dari satu visi besar yang diwujudkan oleh self determining dari individu-individu dengan optimisme yang tinggi. Walaupun sering kali terjadi perlawanan dari pihak oposisi, kekuatan dan spirit individu yang tercerahkan tersebut tidak akan goyah, bersama para antusias yang dipengaruhinya.

Dalam konteks peradaban Islam, disana terdapat peran dan kesungguhan sekelompok individu dalam mewujudkannya. Visi Spiritualitas menjadi faktor terpenting dibalik megahnya peradaban Islam. Visi ini secara aktual dimiliki oleh Minoritas kreatif yang didukung massa dalam menghadapi dan menyikapi kondisi lingkungan peradaban tersebut. Dalam konteks ini, mereka adalah Nabi Muhammad saw. bersama para sahabat dan dilanjutkan oleh penerusnya.

Nabi Muhammad saw. merupakan sosok teladan yang paling utama dalam Islam, bahwa kemajuan peradaban dalam memajukan kehidupan perlu didasari oleh sebuah visi yang yang bermakna, dan diwujudkan melalui self determining dengan penuh kesadaran dan totalitas dalam menjalankan misinya. Visi spiritualitas Islam selanjutnya akan terus dimunculkan oleh minoritas kreatif muslim, yang dengannya peradaban Islam menuai kejayaannya.


1. Yang jujur dan terpercaya. Muhammad Sameh Said,Muhammad Sang Yatim: Janji dan kemenangan yang dinanti, Cordoba, Bandung, 2019,p. 45.

2. Mi’roj Dodi Kurniawan. “Spiritualitas, Minoritas Kreatif, dan Peradaban Islam Klasik (3): Nabi Muhammad” dalam situs GANA ISLAMIKA , 24 September 2018

3. Ibid.

4. Keyakinan pada banyak tuhan atau menuhankan banyak hal. Ibid.

5. Ibid.

6. Markaz Syeikh Zayed “Silsilah al-Azhar al-Syarif: Li at-Ta’lim al-Lughah al-‘Arabiyyah li ghairi an-Nathiqinabiha”, Juz. 5, p. 40, The World Association for al-Azhar Graduates, Kairo, 2018

Categories: Opini

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *