Clown G75ec43ea5 1920 1024x683
Foto: Pixabay.com

Beberapa kali saya bertemu orang yang sangat mudah merasa tersinggung dan merasa tersindir, bahkan ketika apa yang saya ucapkan bukan ditujukan untuknya. Cukup bisa difahami memang, karena setiap orang punya pandangannya tersendiri atas apa yang diucapkan orang lain, terutama ucapan yang tidak disebutkan tujuannya ataupun ucapan satir. Hal ini juga sering dialami oleh orang yang berkecimpung di dunia stand up comedy. Terkadang para komika tersandung permasalahan dari  jokes mereka hanya karena ada pihak yang merasa tersinggung. Belum lagi terkadang pihak yang tersinggung adalah bukan dari pihak yang dituju secara langsung, bahkan tidak ada kaitannya dengan pihak yang dituju. Mereka hanya sebatas orang-orang yang mengidolakan atau satu pemikiran dengan pihak yang dituju.

Sebagaimana ketersinggungan adalah bagian dari emosi, maka ketersinggungan merupakan sebuah pilihan, kita bisa memilih untuk tersinggung atau tidak. Seorang komika, Ricky Gervais pernah berkata, “Offense is taken, not given”. Mungkin orang bebas untuk berkata apapun tentang kita, tapi kita sendirilah yang memilih untuk tersinggung pada ucapannya atau tidak. Sekalipun juga memilih untuk tersinggung adalah sebuah bentuk kebebasan manusia, acap kali tersinggung dijadikan sebagai wujud dari sebuah kebenaran, dan menjadikan orang yang menyinggung tersebut sebagai pihak yang bersalah.

Ketersinggungan seperti ini semakin sering kita jumpai pada saat ini, terlihat dari semakin sensitifnya perasaan orang ketika ada hal yang bersentuhan dengannya, ia merasa tersinggung. Orang yang mudah tersinggung biasanya disebabkan karena rasa Baper (bawa perasaan) yang berlebihan. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan baper, hanya saja menurut saya terlalu lebay untuk baper pada hal yang sepele. Bahkan pada beberapa kejadian yang dianggap menyinggung, penyinggung sampai diseret ke ranah hukum atas dasar pencemaran nama baik atau ujaran kebencian. Umumnya sifat saling benci yang melatarbelakangi kasus seperti ini.

Saya setuju bahwa tersinggung ialah hak dan pilihan semua orang. Akan tetapi, ketersinggungan tidak bisa menjadikan seseorang berada di pihak yang benar. Sebab, tersinggung dan kebenaran itu dua hal yang beda. Ketersinggungan bisa diciptakan jika ada pihak yang menginginkannya karena offense is taken, entah perasaan tersinggung tersebut berkaitan dengan hal yang benar atau salah. Sedangkan kebenaran tidak bisa diciptakan dari sebuah kesalahan. Berbeda jika sesuatu yang menyinggung memang tidak sesuai dengan kenyataan, dan mengandung unsur kebohongan, maka pihak yang disinggung sah saja untuk tersinggung atau merasa dicemarkan nama baiknya.

Kid G2889e8688 1920 1024x681
Foto: Pixabay.com

Ketersinggungan tidak bisa semata-mata menjadi alasan untuk membuat diri menjadi korban (playing victim) dan memosisikan orang lain menjadi pelaku kejahatan. Padahal sering kali orang tersinggung disebabkan rasa nyamannya diganggu oleh kebenaran. Rasa tersinggung tersebut membuatnya menutup diri atas kebenaran dan kebaikan yang bisa mengubah hidupnya ke arah yang lebih baik. Lebih buruk lagi orang yang mudah tersinggung biasanya rentan untuk depresi. Karena mereka mempunyai pikiran yang berlebih dengan ucapan orang lain. Namun, rasa tersinggung  bisa jadi hal yang baik jika disikapi dengan baik juga. Bila ada kebenaran atau hal yang baru, hendaklah diterima dengan rendah hati untuk memperbaiki diri atau untuk memperkaya diri. Jangan mudah untuk tersinggung pada hal yang seharusnya tidak tersinggung atau hal remeh. Terkadang hal kecil bisa menjadi besar hanya karena rasa tersinggung yang bergolak.

Di sisi lain, kita juga tidak boleh mudah menyindir atau bahkan menjelek-jelekkan orang lain. Sebagai sesama manusia, kita dianjurkan menghormati orang lain terlepas dari kepercayaan, agama, sikap, bangsa, dan negara. Ini adalah sebagai bukti dari persaudaraan antar manusia. Semisal ada hal yang ingin disampaikan mengenai orang lain, maka sampaikanlah dengan baik dan tanpa menjelekkan pihak tersebut. Sekalipun yang diutarakan adalah sebuah kebenaran, namun jika ada pihak yang merasa tersinggung, maka minta maaf adalah cara yang bijak dan epic. Minta maaf juga tidak menjadikan orang yang tersinggung itu berada di posisi yang benar. Sebab, terkadang apa yang menurut kita itu benar, bisa jadi salah menurut orang lain, karena setiap orang punya batas suci masing-masing. Jika sudah mengotori batas suci orang, hal yang paling tepat adalah membersihkannya, yakni dengan meminta maaf.

Categories: Opini

1 Comment

Ull · 23/08/2022 at 4:25 pm

Semoga aja kebenaran itu bukan relatif, dengan maksud kemustholahan/istilah tentang apapun di zaman kita ini masih bercampur aduk, masing2 mempunyai istilah sendiri sehingga terkadang subjek sering membela diri sendiri atau lainnya dengan istilah yang ia miliki sendiri tanpa melihat lawan bicaranya tau atau tidak. Ambil aja, istilah yang harusnya digunakan pada suatu bidang khusus tapi anehnya digunakan di bidang umum.
Maka dari itu istilah pada sesuatu itu bagusnya benar benar di bebaskan alias di guna sesuai dengan konteksnya.

Yap pada dasarnya, kebenaran itu bersifat hak tanpa memihak apapun, kalau satu tambah satu saja kita bisa mengatakan dua tanpa ada imbalan ataupun tidak memihak diantara kita dan kita pun ikhlas mengucapkannya. Lalu mengapa pada suatu permasalahan ada diantara kita menggunakan istilah sendiri demi kebenaran yang ia yakini benar ?!

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *