Ppp
Foto: Pinterest.com

“Entah apapun alasannya, ketika kamu melanjutkan sekolah di luar negeri, ekspektasi orang sekitar terhadap dirimu begitu tinggi. Tidak peduli isi kepalamu seperti apa, keadaanmu sesulit apa di sana, mau berapa lama kamu kuliah, bahkan jurusanmu apa, mereka tidak akan peduli hal itu. Yang perlu kamu ketahui, ketika kamu kembali ke tanah air, kamu harus bisa menjawab semua pertanyaan yang mereka lontarkan kepadamu. Ini adalah luka yang harus kamu obati dengan berbenah diri dan terus berusaha menjadi yang terbaik. Selamat berproses menghadapi lika-liku kehidupan di Negeri Kinanah”, nasehat dari seorang senior padaku.

***

Seperti saat ini yang saya rasakan, siapa sih yang tidak ingin setibanya di Mesir langsung disambut gerbang  perkuliahan?  Target masuk kuliah tepat waktu dan diumur yang pas sesuai rencana. Saya rasa semua Mahasiswa pun ingin kuliah tepat waktu, termasuk saya. Akan tetapi takdir berkata lain. Semua rencana yang tertera di dinding kamar saya berbalik seratus delapan puluh derajat.

Semua berawal dari gagalnya saya dalam mengikuti tes seleksi Kemenag. Pada waktu itu saya terpuruk, lantas saya berusaha mencari cara lain  dan berhusnudzon kepada Allah. Dan ternyata Allah masih berkenan mengizinkan saya berangkat ke negara impian saya ini. Seperti yang didawuhkan Syeikh Mutawalli Asy-Sya’rawi “Jika Allah mengambil darimu sesuatu yang tidak pernah kamu sangka akan kehilangannya. Maka, kelak Allah akan memberimu sesuatu yang tidak pernah kamu duga untuk memilikinya.”  Takdir Allah begitu indah. Sesuatu yang hilang akan kembali menemukan jalannya, walaupun dengan wujud yang berbeda.

Manusia hanya bisa berencana, selebihnya Tuhan yang menentukan. Jika rencanamu tidak berjalan mulus seperti yang sudah direncanakan, kamu bisa apa?  Bahkan banyak dari kita yang belum menyadari hikmah dari suatu kejadian. Lalu dikemudian hari berkata, Owh ternyata ini hikmah yang tersembunyi dari kejadian kemarin.  Itulah pentingnya kita senantiasa berhusnudzon kepada Allah, jika kita ditimpa suatu cobaan yang tidak kita inginkan, mau tidak mau kita harus mendidik hati bersikap legowo.

***

Dan kini saya menduduki bangku Ma’had, program ini sebelumnya tidak sedikit pun terlintas di benak saya. Pasalnya duduk di bangku Ma’had berarti kembali mengulang masa sekolah. Program Ma’had Al- Azhar sendiri adalah program sekolah formal jenjang SMP-SMA yang diperuntukkan untuk pelajar asing yang berada di bawah naungan lembaga pendidikan Al-azhar, Mesir. Sebagai persiapan masuk kuliah di Universitas Al-azhar.

Lama tidaknya belajar di Ma’had tergantung pada kemampuan pelajar selama di sini. Karena ketika awal masuk Ma’had, para pelajar akan mengikuti tes akselerasi untuk penempatan kelas. Rata-rata pelajar Indonesia di jenjang SMP-SMA hanya menempuh kisaran satu sampai tiga tahun, sehingga lulus dari Ma’had bisa langsung lanjut memasuki kampus Al-azhar tanpa tes. Sedangkan untuk yang sudah ada basic bahasa arab, seperti lulusan pesantren bisa ditempuh hanya dengan satu sampai dua tahun saja.

***

Aid37267img C.c 2
Foto: Azhar.edu.eg

Bagi saya mengikuti program Ma’had merupakan aksi keluar dari zona nyaman. Tidak ada salahnya jika kita memberanikan diri keluar dari zona nyaman, bukankah jika keluar dari zona nyaman akan membuatmu terbiasa memecahkan masalah dan lebih mencintai adanya tantangan?

Banyak orang yang enggan keluar dari zona nyaman karena takut terjun bebas ke dunia baru. Padahal hidup ini tentang sebuah pilihan, menentukan pilihan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ada beberapa pertimbangan yang perlu dipikir matang-matang sebelum akhirnya mengambil keputusan final.

Meskipun saya memilih Ma’had, saya tahu persis bagaimana realita tentang dunia perkuliahan di Al-azhar. Mendengar dari banyaknya cerita para senior, ternyata kebanyakan Masisir ( Mahasisiwa Indonesia di Mesir) mengalami ke-rasib-an ( tidak naik tingkat ) yang jumlah presentasenya bisa dibilang cukup tinggi, bahkan di setiap tahun tingkat ke-rasib-an semakin bertambah.

Beberapa masisir mungkin ada yang menyeletuk seperti ini, “Di Azhar rasib itu sudah menjadi hal biasa, santai aja baru rasib sekali kan?HAHH!!!.

Padahal rasib tidak lain dan tidak bukan terjadi karena penurunan tingkat kemampuan bahasa dan kualitas para Masisir sendiri. Jika dari pondasinya saja belum kuat, bagaimana dengan langkah selanjutnya. Mau dipaksa dengan bagaimanapun caranya, ikut bimbel berapapun banyaknya, jika pondasinya belum kokoh lama-lama bisa roboh. Kalau sudah seperti ini biasanya jalan terakhirnya apa? Putus di tengah jalan, pulang ke Indonesia.

Jangan heran, sudah banyak kejadiannya. Padahal sebelumnya para mahasiswa mengikuti matrikulasi kelas bahasa terlebih dulu di Markaz Lughah sebelum memasuki kampus. Lantas mengapa ketika memasuki kampus dan disuguhkan dengan Muqorror ( diktat perkuliahan) mereka masih kebingungan bahkan masih terbata-bata untuk memahaminya?

Problematika tersebut dapat diatasi salah satunya dengan menjadikan jalur Ma’had sebagai satu pilihan yang tepat, bagi siapapun yang ingin melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Karena dengan adanya bekal persiapan yang matang akan membuat tujuan tercapai secara maksimal. Tapi masuk Ma’had berarti mengulang sekolah dong? Buang-buang waktu dan tenaga. Ingat, Terkadang kita perlu mengambil keputusan mundur satu langkah untuk bisa maju seribu langkah.

Jalan hidup tidak selamanya mulus, adakalanya terjal, berlubang bahkan curam. Ada dua pilihan, mau maju atau mundur, jika maju dirasa belum mampu, maka opsi mundur sejenak adalah pilihan masuk akal. Sebuah kondisi yang mengharuskan kita agar tetap berjalan, walaupun menjadikan jarak tempuh terasa lebih lama dan panjang. Selama kita masih berjalan, kita adalah calon pemenang.

Pilihan mundur sejenak bukan berarti lari dari kenyataan, namun bagaimana cara kita bisa mensiasati hambatan agar mampu mencapai tujuan dengan selamat. Dengan kata lain lebih baik mundur sejenak daripada diam di tempat. Setidaknya dengan cara ini sedikit demi sedikit presentase ke-rasib-an di Al-azhar akan berkurang.

Bukankah lebih baik tertinggal dari teman-teman yang lain, daripada memaksakan sesuatu yang berujung dengan hasil seadanya. Toh pada akhirnya kita akan sampai di garis finish juga, kan.

 Kuliah bukan ajang perlombaan. Tidak ada yang menang ataupun kalah. Setiap orang punya waktunya masing-masing. Setiap masa ada orangnya, dan setiap orang ada masanya.

Terakhir dari saya untuk kalian para pembaca tulisan ini, terkhusus teman-teman yang di Indonesia, saya bersyukur memilih mesir sebagai tujuan tapi jangan samakan kehidupan di Mesir layaknya di film Ayat-ayat cinta atau Ketika cinta bertasbih, itu semua hanya sebuah fiksi, jangan dijadikan sebagai ekspektasi.

Categories: Opini

1 Comment

عياش كالوكو · 24/02/2023 at 1:38 pm

sumpah, ini keren bgt mba. Allah yubaarik fiik

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *